Gelombang tinggi yang terjadi di pantai selatan murni merupakan kekuatan alam. Tapi, hal itu bukan berasal dari dalam perut bumi. Sama sekali fenomena alam tersebut tak berkaitan dengan aktivitas Gunung Merapi.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta I Gusti Made Agung Nandaka menjelaskan, sampai kemarin status Merapi tetap normal. Aktivitasnya pun tak menunjukkan peningkatan. Baik berdasarkan hasil evaluasi data pemantauan secara instrumental maupun visual.

“Untuk kegiatan pendakian, Gunung Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasar Bubar. Kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana, diperbolehkan ke puncak Merapi,” ujar Made kemarin (10/6).

Made menjelaskan, larangan ke puncak itu bukanlah karena aktivitas Gunung Merapi. Tapi lebih karena untuk melindungi pendaki saja. Karena saat ini puncak Merapi rawan terjadi longsor, dan sangat berbahaya bagi keselamatan pendaki.

“Fungsi alat-alat pemantauan aktivitas Gunung Merapi sangat penting di dalam memberikan informasi aktivitas vulkanik. Dari alat pantau itu juga tidak ada perubahan aktivitas,” jelasnya.

Made menegaskan pihaknya segera berkoordinasi jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan. BPPTKG akan melakukan tinjauan ulang dan kajian terhadap status aktivitas Gunung Merapi yang saat ini dalam keadaan normal. (eri/laz/ong)