Gelombang tinggi yang menerjang pantai selatan dalam mendapat perhatian serius Pemkab Gunungkidul. Upaya penanggulangan pascabencana sudah dilakukan. Langkah berikutnya adalah mencegah kejadian serupa agar tidak terulang kembali.

Kabid Pengembangan Produk Wisata Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbubpar) Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan, persoalan gelombang tinggi merusak bangunan harus disikapi secara bijaksana.

“Kita harus tahu apa itu sempadan pantai. Itu merupakan garis batas luar pengaman yang ditetapkan dalam mendirikan bangunan. Sepengetahuan saya, sebagian besar bangunan masuk di dalam ring sempadan pantai,” kata Hary kemarin (10/6).

Diambil dari terminologi, kata Haryy, sempadan pantai adalah 100 meter dari titik pasang tertinggi dan menjadi kawasan lindung. Itu diatur dalam peraturan daerah tentang bangunan gedung.

“Nah, bangunan yang ada sekarang itu jelas masuk di dalam sempadan pantai. Misalnya Pantai Indrayanti (Pulang Syawal), titik pasang tertinggi kan sebenarnya ada di jalan, tapi bangunan justru ada di dalam,” terangnya.

Lalu, selama ini upaya dari pemerintah bagaimana terkait dengan penertiban? Camat Tanjungsari Witanto mengatakan, pihaknya sudah tidak henti mengingatkan warga pesisir untuk menghentikan pembangunan bangunan di dalam lingkar sempandan pantai. “Kerusakan yang dialami warga, ya karena kesalahannya sendiri,” kata Witanto.

Salah satu pemilik bangunan liar berupa gazebo yang ambruk diterjang ombak di Pantai Drini, nekat membuka lapak karena mengikuti jejak tetangganya. Meski tahu melanggar, karena tidak ada penertiban pihaknya tetap berjualan. “Saya bersedia bangunan dipindah. Prinsipnya, mata pencaharian kami tidak buntu,” ucapnya.

Di bagian lain, data terkini kerusakan akibat gelombang tinggi, 218 gazebo rusak (153 rusak berat, 66 rusak ringan), 26 rumah makan (tiga rusak berat, 23 rusak ringan), 10 lapak pedagang, empat kamar mandi umum rusak ringan, tiga bangunan Pos SAR, satu bangunan tempat parkir rusak berat, tiga talud rusak berat, satu rumah hunian rusak ringan, dua bangunan fasilitas umum, tujuh pohon cemara roboh, dan lima jaring nelayan hilang. (gun/laz/ong)