JOGJA- Bagi anda yang kerap membeli makanan di pasar-pasar tiban takjil, wajib berhati-hati. Dinas Kesehatan Kota Jogja mengajak masyarakat agar selalu waspada jika membeli makanan takjil. Makanan yang mengandung bahan pangan berbahaya mudah dikenali, seperti warna yang sangat mencolok, dan rasa manis yang sangat terasa di tenggorokan.

Hasil razia makanan takjil Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Jogjakarta tahun ini. Mereka kembali menemukan dua penjual mi yang mengandung zat berbahaya boraks.

“16 pedagang yang kami uji ada dua yang kedapatan menjual mi postif boraks. Mereka berdagang di Lembah UGM,” kata Kepala Balai BBPOM Jogjakarta I Gusti Ayu Adhi Aryapatni, kemarin (13/6).

Menurut Ayu, boraks adalah zat pengawet kimia yang sangat berbahaya bagi manusia. Apalagi jika dikonsumsi terus-menerus, maka nyawa bisa jadi taruhannya. Kedua pedagang yang kedapatan menjual mi positif boraks itupun langsung dibina di tempat oleh petugas.

Sementara saat razia di lokasi kedua yaitu pasar sore Jogokariyan, petugas BPOM tidak menemukan makanan takjil yang mengandung bahan pangan berbahaya. Razia di dua lokasi yang padat pengunjung itu telah dilakukan pekan kemarin.

“Awal bulan Ramadan kami baru razia dua lokasi, di lembah UGM ada dua temuan, di Jogokaryan aman. Pekan ini kami akan turun lagi, sasarannya acak,” sebutnya.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Agus Sudrajat mengatakan, pihaknya bersama tim gabungan Disperindagkoptan dan Dinas Ketertiban juga telah razia ke beberapa pasar tiban. Dua lokasi di Kauman dan Nitikan telah mereka sasar. Hasilnya, petugas tidak menemukan makanan takjil yang mengandung bahan pangan berbahaya.

Meski demikian, Dinas Kesehatan meminta masyarakat agar selalu waspada jika membeli makanan takjil. Makanan yang mengandung bahan pangan berbahaya mudah dikenali, seperti warna yang sangat mencolok, dan rasa manis yang sangat terasa di tenggorokan.

Di Kota Jogja, lanjut dia, masih terdapat pedagang nakal yang sengaja mencampur dagangan makanannya dengan bahan pangan berbahaya. “Untuk sementara pedagang yang mencampur pemanis dan pengawet buatan yang porsinya masih banyak di lapangan. Kalau untuk zat pewarna buatan, porsinya menurun,” terang Agus.

Ia menjelaskan, bagi pedagang yang kedapatan memang langsung dilakukan penindakan. Mereka akan melakukan pembinaan terlebih dahulu. “Baru kalau berulang-ulang,kami serahkan ke Dintib untuk dilakukan tipiring,” tandasnya. (eri/ong)