Gelombang tinggi yang terjadi di pesisir selatan Jawa beberapa waktu lalu dipastikan tidak berhubungan dengan kondisi Gunung Merapi. Gelombang tinggi merupakan efek meteorologi, yang tidak berkait dengan geologi.

Menurut Tenaga Ahli Bidang Kebencanaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Surono, gelombang tinggi terkait meteorologi dengan posisi bulan, bumi, dan matahari. Sedangkan kondisi Gunung Merapi terkait dengan geologi. “Merapi murni geologi, tidak ada kaitannya dengan meteorologi,” ujarnya saat dihubungi kemarin (12/6).

Pria yang akrab disapa Mbah Rono ini meyakinkan kondisi Gunung Merapi masih aman. Menurutnya, gunung yang terletak di perbatasan DIJ dan Jawa Tengah itu tengah “mengisi perut” pascaletusan terbesar Merapi abad ini, pada 2010 silam.

“Sekarang Merapi dalam keadaan kosong setelah dikeluarkan 2010 lalu, perlu waktu untuk mengisi kembali,” jelasnya.

Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) itu meyakini Merapi belum akan meletus kembali dalam waktu dekat ini. Untuk itu, Mbah Rono meminta masyarakat juga bersabar.

“Kok kemrungsung, segala sesuatu dikaitkan Merapi, kasihan Merapi selalu dijadikan terdakwa,” lanjutnya.

Seperti yang sering dikatakannya, Mbah Rono kembali menegaskan Merapi tidak pernah ingkar janji dan pasti menepati janji. Masyarakat diminta untuk tetap tenang. “Yang sabar ditunggu saja,” tuturnya.

Tapi untuk waktunya, Mbah Rono mengatakan, tidak bisa dipastikan. Siklus yang sebelumnya biasa digunakan, sudah tidak bisa digunakan pascaletusan 2010. Siklus empat tahunan sudah terlewati. Termasuk untuk pemantauannya juga berbeda. “Kamus-kamus dulu ada gempa, api diam dan lainnya pecah pada 2010. Sekarang pengamatannya berbeda,” tandasnya. (bhn/pra/ila/ong)