Harnum Kurniawati/Radar Jogja
SIMBOL PAHINGAN: Anggota komunitas, seniman maupun warga yang menolak relokasi Pahingan, berkumpul melalui ngabuburit di Alun-Alun Kota Magelang, kemarin. Mereka sengaja menghadirkan pikulan makanan sebagai simbol peduli Pahingan.
MAGELANG – Banyak masyarakat yang melakukan kegiatan menunggu buka puasa atau ngabuburit di Alun-Alun Kota Magelang. Ada pemandangan menarik di antara mereka. Yaitu adanya pikulan makanan yang diisi jajanan berupa kacang godok, kue putu, jagung godog, dan jajanan pasar lainnya.

Pikulan itu sengaja dihadirkan oleh sejumlah warga yang menaruh simpati atas rencana direlokasinya Pasar Minggu Pahing (Pahingan) ke Lapangan Rindam IV/Diponegoro oleh Pemkot Magelang. Tepatnya di samping timur Alun-Alun, di depan Masjid Agung Kota Magelang.

Salah satu simpatisan Pahingan, Luky Henry mengatakan, ia dan rekan-rekannya sengaja membawa pikulan berisi jajanan pasar sebagai simbol Pahingan. Selain ngabuburit, kegiatan ini juga untuk buka bersama sekaligus penggalangan petisi penolakan relokasi Pahingan.

“Ini adalah bentuk kepedulian kami kepada Pahingan yang akan direlokasi,” katanya saat ditemui di sela kegiatan, kemarin. Pria yang kerab di sapa Heng ini mengatakan, selain itu juga ada penggalangan petisi. Pihaknya juga menyediakan sebuah laptop bagi warga yang akan menyampaikan petisinya melalui change.org.

“Kami di sini memfasilitasi kawan-kawan yang belum menyampaikan petisi menolak relokasi Pahingan. Adapun isi petisi itu mengimbau kepada Wali Kota Magelang untuk membatalkan relokasi Pahingan. Kami menginginkan Pasar Pahingan tetap digelar setiap Minggu Pahing di Alun-Alun Kota Magelang,” paparnya.

Heng meminta wali kota untuk membatalkan surat edaran (SE) yang telah dikeluarkan Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) tentang relokasi Pahingan. Pihaknya berharap Pahingan tidak direlokasi, namun setuju dan mendukung dilakukan penataan.

“Pahingan jangan direlokasi, tapi cukup ditata dan ditertibkan. Seperti pedagang yang menggunakan pengeras suara, tidak boleh berjualan menggunakan pengeras. Itu saja yang dilakukan,” ungkap anggota remaja Masjid Agung Kauman itu.

Ia dan para penggagas petisi lain akan terus rutin melakukan penggalangan petisi setiap Sabtu selama bulan Ramadan. Dalam petisi tersebut telah terkumpul 294 orang yang menyampaikan tanda tangan penolakan relokasi Pahingan. “Kami akan terus giat melakukan penggalangan petisi, sampai wali kota membatalkan relokasi,” tegasnya.

Salah seorang yang menyampaikan petisi, Agnia Yulfa Anisa, 18, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tidar Magelang, kemarin ikut menyampaikan petisi di situs change.org. Dia menginginkan, keberadaan Pahingan yang dilangsungkan setiap Minggu Pahing bersamaan Pengajian Pahingan di Masjid Agung Kota Magelang, tetap ada.

“Keinginan saya Pahingan tetap ada karena itu sudah menjadi ikon bagi Kota Magelang sendiri,” ujar dia yang datang bersama empat temannya. (nia/laz/ong)