HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
BERSIH: Sugito, 53, warga Kledekan Kidul, Jangkaran, Temon pemilik salah satu warung di kawasan pantai Congot tengah membersihkan sampah yang terserak di sekitar warungnya, kemarin (12/6).
WACANA penataan bangunan semipermanen di pesisir Pantai Selatan pascagelombang tinggi menuai tanggapan beragam. Meski setuju, tidak sedikit yang pesimistis karena minimnya ketersediaan lahan.

Wakil Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Baru Pandansimo Jumali mengatakan, gelombang tinggi terparah beberapa waktu lalu justru di Pantai Baru. Tetapi, tidak ada satu pun bangunan semipermanen di Pantai Baru yang mengalami kerusakan. “Hanya ada sepuluh pohon cemara yang tumbang,” jelas Jumali, kemarin (12/6).

Kendati demikian, Jumali mempersilakan bila Pemprov DIJ maupun Pemkab Bantul berniat melakukan penataan di kawasan Pantai Selatan. Termasuk di antaranya penataan bangunan semi permanen di Pantai Baru Pandansimo.

Jumali menyebutkan, ada 124 bangunan semipermanen di Pantai Baru. Seratusan bangunan ini terbagi dalam tiga kelas. Klasifikasi kelas ini didasarkan jarak antara bangunan dan bibir pantai. Kelas 3 sekitar 70an bangunan, sekarang hanya berjarak 70 meteran dari pantai. “Kemudian kelas 2 ada 35 bangunan sekitar 100an meter,” ungkapnya.

Menurut Jumali, seluruh bangunan ini semula berada di luar garis sempadan pantai. Awalnya sekitar 250 meter dari bibir pantai. Hanya, sejak gelombang tinggi rutin menerjang Pantai Baru sejak enam tahun terakhir, jarak antara bangunan dan pantai kian terkikis karena abrasi. “Pembangunannya dulu sudah sesuai perhitungan,” tandasnya.

Jumali berpendapat, kendala penataan bangunan di pantai baru adalah ketersediaan lahan. Banyak lahan yang sudah dimanfaatkan. Padahal, jumlah bangunan warung semipermanen yang harus direlokasi karena berada di dalam garis sempadan pantai tidak sedikit. “Kalau mau ditata harus ada sosialisasi dulu,” pintanya.

Senada disampaikan Dardi Nugroho, pemilik warung kuliner di Pantai Depok. Dardi tak membantah hampir seluruh warung kuliner di Pantai Depok yang diperkirakan berjumlah 60 unit hingga 70 unit ini berada di dalam garis sempadan pantai. “Nggak sampai 100 meter dari pantai,” ucapnya.

Terkait penataan ulang, pemilik warung Salsabila 2 ini enggan banyak berkomentar. Mengingat, penataan bangunan di Pantai Depok bukan perkara gampang. “Semua sudah mapan. Pasti akan ada gejolak,” ungkapnya.

Sementara itu, gelombang pasang di Kulonprogo mulai mereda, kendati ketinggian gelombang masih belum memungkinkan bagi nelayan untuk turun melaut. Kondisi itu lebih banyak dimanfaatkan para pemilik warung makan di pinggir pantai untuk membersihkan tempat usahanya.

“Saya sudah mulai bersih-berish sejak dua hari lalu, kalau sudah bersih warung akan buka kembali,” kata pemilik warung makan di tepi Pantai Congot Sugito, 53, warga Kledekan Kidul, Jangkaran, Temon, kemarin (12/6).

Diungkapkan, saat terjadi gelombang pasang Kamis (9/6), warung makan miliknya yang berjarak sekitar 100 meter dari tubir Pantai Congot terkena gelombang pasang. Berbagai macam sampah tertahan di banguann warung dan pohon-pohon di sekitar tempat usahanya.

Menurutnya, angin besar yang tertiup dari selatan sudah biasa terjadi saat peralihan musim atau mongso 12 (dalam kalender nelayan). Namun gelombang tinggi hingga naik kepermukaan menjadi fenomena yang baru kali ini terjadi.

Sementara itu, objek wisata hutan mangrove sebagai tempat wisata alternatif baru yang berada di pedukuhan Pasir Mendit dan Pasir Kadilangu juga ikut terdampak langsung gelombang pasang.

Air yang mengalir sungai diantara hutan mangrove sempat naik dan mengancam jembatan atau akses jalan menuju spot-spot terbaik untuk beriwsata dan foto selfie di hutan mangrove.

“Jembatan sasak bambu dan kayu khususnya yang melintas sengaja kami copot, supaya tidak rusak atau terbawa arus banjir rob. Sementara waktu kami tutup, sampai kondisi gelombang pasang mereda,” ucap Pengelola Jembatan Api-Api Obwis Hutan Magrove Pasir Mendit Sudarno.

Dijelaskan, pengunjung sebetulnya cukup banyak, namun pengelola memutuskan untuk fokus melakukan perbaikan terlebih dahulu. Kendati demikian, tidak semua titik wisata mangrove di pPsir Mendit tutup, seperti untuk titik hutan mangrove yang dikelola Wanatirta masih boleh dikunjungi.

Pengelola Wanatirta Warso Suwito menambahkan, saat puncak gelombang pasang sekitar 20 rumah sempat terimbas banjir rob. Sejumlah tambak juga sempat terkena, namun beruntung banyak yang dalam kondisi kosong belum diisi. (zam/tom/ila/ong)