DWI AGUS/RADAR JOGJA
Pakar Geologi UGM Agung Harijoko

PAKAR Geologi UGM Agung Harijoko menilai siklus Gunung Merapi masih susah ditebak. Acuan antara empat hingga lima tahun, menurutnya, hitungan rata-rata dilihat dari seluruh peristiwa erupsi yang terjadi. Menurutnya, Merapi memiliki siklus yang terduga, mulai dari erupsi normal hingga indeks letusan diatas empat
Dilihat dari data yang dihimpun, sejarah Merapi erupsi besar bisa dihitung. Terutama yang melalui indeks letusan diatas dua. Mulai dari tahun 1822, 1832, 1849, 1872, 1930, 1961, dan terakhir pada 2010. Erupsi terakhir 2010 dugaannya hampir sama dengan erupsi di tahun 1822.

Dijelaskan, kalau dilihat dari data yang terkumpul erupsi terbesar yang mencapai indeks empat terjadi di tahun 1822 dan 1872. “Untuk 2010 diduga mencapai atau menyamai sejarah erupsi Merapi yang lalu. Ini tentu menjadi kajian penelitian yang perlu dilihat,” jelasnya ditemui di Jurusan Geologi UGM, Minggu (12/6).

Agung mengungkapkan, untuk tipikal indeks dua, masih kerap terjadi. Sementara untuk erupsi 2010 lalu, ada yang berbeda. Tipikal erupsi Merapi ditandai dengan runtuhnya kubah lava. Pada indeks standar setiap kubah lava yang runtuh ditandai dengan munculnya kubah lava baru.

Sementara untuk erupsi 2010, kubah lava terlontar. Sehingga mengakibatkan kubah lava berlubang. Berbeda dengan erupsi di tahun-tahun sebelumnya yang meninggalkan sisa kubah lava. Inilah yang perlu mendapatkan konfirmasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

“Perlu diperhatikan pasca-erupsi 2010, apakah erupsi selanjutnya sama besarnya atau normal kembali. Sedangkan kubah lava merapi 2010 runtuh, dan belum terdeteksi muncul kubah lava baru atau tidak,” jelasnya.

Tumbuhnya kubah lava baru sendiri merupakan ciri khas erupsi Merapi. Kubah lava Merapi pun berbeda dengan kubah lava Gunung Kelud. Jika kubah lava Kelud masih tergolong stabil karena berada di cekungan danau.

Sementara kubah lava Merapi berada di bibir kawah Merapi yang tergolong tidak stabil. Untuk saat ini dia belum bisa memastikan karena merupakan kewenangan dari BPPTKG. Dia juga berharap agar masyarakat tetap memastikan informasi yang valid.

Agung menjelaskan, kubah lava yang runtuh inilah yang menyebabkan pyroclastic density flow. Istilah tersebut lebih dikenal dengan nama wedhus gembel. Materi yang dibawa merupakan kubah lava yang mengandung tekanan gas yang tinggi. “Ditambah dengan gaya gravitasi sehingga terjadi wedhus gembel. Yang membawa material itu bukan air tapi gas yang terkandung dalam kubah lava sebelumnya,” katanya. (dwi/ila/ong)