MUNGKID – Polres Magelang menerima laporan resmi terkait kasus pelecehan seksual di Kecamatan Tempuran. Keluarga korban merasa tidak terima terhadap perbuatan pelaku yang melakukan tindakan amoral terhadap anak-anak. Keluarga korban berharap polisi segera menangkap pelaku yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya.

“Baru tiga yang sudah positif orang tuanya melapor ke Polsek Tempuran,” kata Kasubag Humas Polres Magelang AKP Sugiyanto kemarin. Keluarga korban pelecehan seksual mendatangi langsung ke Polsek. Petugas lalu mendalami dan memeriksa sejumlah saksi.

Kabar yang beredar, total korban kekerasan seksual mencapai enam anak. “Masih pendalaman karena tiga korban lainnya belum memberikan keterangan,” tambahnya.

Polisi akan mendalami kasus kekerasan seksual yang melibatkan korban anak-anak itu. Ada pun untuk pelaku yang sudah kabur setelah kasus ini mencuat, polisi tetap akan mencarinya. Man, 37, pelakunya adalah tetangga para korban sendiri.

“Kami periksa saksi-saksi dan melakukan upaya paksa dalam menjalankan proses penyidikannya,” tegasnya. Pada kasus ini, korban mengaku dipaksa menjadi sasaran oral seks. Pelaku diduga melakukan hal itu di tempat yang sepi. Seperti di rumah pelaku, rumah korban dan di sungai.

“Polisi mengumpulkan alat bukti untuk menguatkan kejahatan yang dilakukan pelaku dengan didukung bukti yang cukup. Polisi juga terus mencari dan berusaha menangkap pelaku,” jelasnya.

Sugiyanto mengatakan, polisi telah meminta keterangan tiga korban dari total enam anak. Untuk korban yang lain akan dimintai keterangan dengan menyesuaikan waktu.

Ini karena proses pemeriksaan kasus tersebut menyangkut dampak psikologi anak-anak. “Pelaku mengarah ke perbuatan cabul. Ia melakukan itu di tempat yang sepi,” katanya.

Karena korbanya anak-anak, kasus ini masuk lex spesialis. Kepolisian bisa saja menjerat pelaku dengan Pasal 82 UU 23/ 2002 tentang Perlindungan Anak. Jika terbukti melakukan perbuatan cabul, pelaku terancam hukuman 15 tahun penjara. “Tugas kita nanti membuktikan ada tidaknya tindak pidana yang dilakukan pelaku,” katanya.

Seperti diberitakan, enam korban pelecehan seksual itu masing-masing masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA. Untuk melakukan hal senonoh, pelaku mengiming-imingi korban dengan sesuatu. Seperti batu akik, mengajarkan sesuatu kepada korban, dan memberikan uang.

Semua korban merupakan laki-laki dengan usia 12-16 tahun. “Semoga pelaku segera ditangkap. Pelaku ini sudah meresahkan masyarakat,” ujar salah satu orang tua korban. (ady/laz/ong)