GUNAWAN/radar jogja
HARUS TERTIB – Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi (kiri) didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Saryanto mengunjungi Pantai Drini pasca diterjang gelombang beberapa waktu lalu.
GUNUNGKIDUL – Pemkab Gunungkidul tak mau menunggu lama untuk revitalisasi kawasan pesisir pantai selatan. Hari ini, pemkab berencana menata, sekaligus menertibkan bangunan-bangunan semi permanen yang selama ini dimanfaatkan sebagai warung kuliner.

Wakil Bupati Immawan Wahyudi melarang pengelola warung mendirikan kembali bangunan yang telah roboh akibat diterjang gelombang tinggi minggu lalu. “Kami akan data seluruh bangunan yang masuk kawasan sempadan pantai,” jelasnya kemarin (12/6)
Politikus PAN itu menegaskan, sempadan pantai harus steril dari bangunan dalam bentuk apapun. Itu sesuai amanat Peraturan Daerah Gunungkidul Nomor 6 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW). Salah satu poinnya menyebutkan bahwa sempadan berjarak 100 meter dari bibir pantai merupakan kawasan lindung.

“Pertimbangan lain, penataan ini didasarkan atas keamanan dan keselamatan. Menertibkan bangunan yang menabrak aturan, juga pelestarian lingkungan,” papar Immawan.

Lebih lanjut diungkapkan, penataan sempadan juga mempertimbangkan unsur estetika. Menurut Immawan, keindahan pantai yang menjadi daya jual Gunungkidul lambat laun rusak oleh banyaknya bangunan liar di sempadan.

Kendati demikian, Immawan mengimbau warga pesisir selatan tak perlu risau dengan rencana penataan kawasan itu. Dia menggaransi bahwa pemkab tak akan berlebihan dalam penertibannya. Pendekatan persuasif lebih diutamakan. Untuk menciptakan win-win solution.
Pemkab lebih dulu akan berkoordinasi dengan kepala desa setempat, kecamatan, dan komunitas kelompok sadar wisata pantai. Immawan berjanji melibatkan semua unsur yang ada di kawasan pesisir. “Semoga masyarakat paham, Ini penting dalam menunjang dunia pariwisata,” tuturnya.

Diisinggung mengenai upaya relokasi pedagang, Immawan akan berupaya mencarikan solusi terbaik. Sebab, pemkab tidak memiliki lahan untuk menggeser pedagang ke tempat lain. (gun/yog/ong)