BANTUL – Upaya Kelurahan Panggungharjo membuka swadesa memantik Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Timbulharjo, Sewon untuk angkat bicara.

Wakil Ketua BPD Kelurahan Sewon Irvan Muhammad menyatakan, gagasan Pemdes Panggungharjo menjadi pukulan telak bagi pemkab.

Sebagaimana diketahui, Kelurahan Panggungharjo menginisiasi gerakan swadesa untuk memasarkan hasil produk usaha kecil mikro menengah (UMKM) khas daerah. Sementara itu, Pemkab Bantul selama ini dinilai hanya mengandalkan Pasar Seni Gabusan (PSG) sebagai etalase produk home industry.

Namun, keberadaan PSG justru dianggap lebih banyak merugikan APBD dibanding output yang diperoleh. Irvan mengungkapkan, sejak didirikan pada awal 2000-an, PSG tak mampu mengangkat pamor produk andalan Bumi Projotamansari.

Bahkan, sepengetahuannya, tidak sedikit uang APBD yang digelontorkan demi biaya operasional pasar yang terletak di Jalan Parangtritis itu. Misalnya, untuk menggaji beberapa karyawan PSG.

“Sekitar Rp 400 jutaan-an tiap tahunnya,” ucapnya. Dengan semangat kemajuan desa, Irvan berharap Pemdes Timbulharjo tidak memperpanjang kontrak sewa PSG. Menurutnya, status tanah yang dijadikan PSG merupakan tanah kas Desa Timbulharjo yang disewa pemkab selama 20 tahun. Sejak 2003.

Jika kontrak habis, Irvan akan mendorong Badan Permusyawaratan Desa Timbulharjo untuk mengelola PSG secara mandiri. “Terbuka kemungkinan bekas lahan PSG itu bakal dijadikan salah satu BUMDes,” katanya.

Menurut Irvan, sejak Undang-Undang Nomor 6/2014 tentang Desa diterapkan, pemerintah desa seolah mendapatkan angin segar. Berbekal dana desa, setiap desa berlomba. Tak hanya pada bidang infrastruktur. Juga dalam hal memberdayakan masyarakat.

“Kami juga berencana membuka swadesa seperti Panggungharjo,” ungkap Irvan.

Menurutnya, swadesa memiliki banyak kelebihan dibanding transaksi jual-beli pada umumnya. Sebab, ada jaringan antardesa se-Indonesia yang memungkinkan para pelaku usaha bisa bertransaksi langsung. Dia mencontohkan, Kelurahan Timbulharjo bisa langsung dengan konsumen di Lampung.

“Misalnya beli kopi. Sebaliknya, orang Lampung juga bisa beli langsung produk khas Timbulharjo,” katanya.(zam/yog/ong)