JOGJA-Masalah keuangan yang tidak segera cair ternyata tidak hanya membuat pusing KONI DIJ. Pengda PBVSI DIJ juga dibuat bingung dengan masalah pembiayaan pemberangkatan tim ke Jawa Barat, September nanti. Hal ini membuat Pelatih Voli Indoor Putra DIJ Putut Marhaento harus menjual mobilnya untuk pembiayaan tim

Sehari setelah memajang di bursa mobil bekas Otobursa TVRI Jogja, Minggu (12/6), Daihatsu Luxio 1,5XAT milik Putut akhirnya membuat kepincut seorang pembeli. Bukan karena merek, bodi ataupun mesinnya, karena niatnya ingin membantu atlet voli indoor DIJ agar bisa berangkat ke PON 2016.

“Kemarin pagi ada yang telpon langsung, dan bilang mau ambil. Kalau sejak Minggu memang banyak yang telpon, tapi cuma tanya-tanya saja,” kata Putut Marhaento kepada Radar Jogja, kemarin (13/6).

Pria yang dipercaya Pengurus Daerah (Pengda) PBVSI untuk mengasuh atlet-atlet voli DIJ ini merelakan salah satu kendaraan roda empatnya dijual untuk membiayai pendaftaran 12 atlet. Dirinya bersyukur, setelah mengikuti bursa mobil akhirnya ada orang yang masih peduli dan ingin membantu tim asuhannya untuk tampil di PON September mendatang.

Dikatakan, calon pembeli minibusnya merupakan orang Jogja, namun saat menghubungi dirinya, orang tersebut masih berada di Semarang.

“Orang itu langsung ngomong, ya sudah saya ambil saja pak, buat bantu teman-teman,” tutur Putut menirukan si calon pembeli.

Diakui, dirinya belum tahu si calon pembeli akan mengambil dengan harga berapa. Tetapi, saat ditawarkan melalui bursa mobil, kendaraan tersebut dibuka dengan harga Rp 95 juta.

“Ngga tau mau nawar berapa, yang penting saya bisa pakai untuk pembayaran anak-anak,” tegas pelatih kelahiran Wonogiri 1 Mei 1960 ini.

Selama lima tahun berada di tangannya, mobil tersebut memang lebih banyak digunakan sebagai sarana transportasi anak asuhnya ketika harus bertanding ke luar daerah. Dirinya juga tidak menerima keberatan dari keluarga, bahkan dukungan datang satu persatu dari orang sekitarnya. Termasuk saat tim yang menjadi runner-up saat Kejurwil Kualifikasi PON ini melakukan uji coba dengan tim voli di Semarang awal bulan kemarin. Tidak adanya biaya, karena status mandiri, masih ada orang yang membuka hati untuk membantu membiayai berangkat ke Semarang.

“Bersyukur masih ada orang yang peduli, yang penting kan itu,” ujarnya.

Tekadnya untukmemberangkatkan anak asuhnya menjadi bagian Kontingen DIJ bukan tanpa sebab, peluang besar untuk menyumbang medali ada pada diri Antonius Adi Nugroho dan kawan-kawan. Dengan adanya dukungan dari orang-orang yang peduli dengan prestasi olahraga atlet DIJ ini, dirinya yakin anak asuhnya semakin termotivasi untuk memberikan yang terbaik.

Terpisah, Bendahara Pengda PBVSI DIJ Sujadi menambahkan, kabar ada orang yang serius ingin membeli mobil tersebut menjadi kabar gembira yang ditunggu-tunggu. Karena, selama dipajang di bursa mobil kemarin, belum ada orang yang menunjukan keseriusannya untuk membeli mobil yang diberi tulisan ‘Dijual, Untuk Biaya PON 2016 Jawa Barat Cabang Bola Voli’.

“Kalau kemarin memang hanya banyak yang tanya saja, ada yang nawar tapi masih dibawah Rp 90 juta. Tapi kalau yang berminat memang kami arahkan langsung menghubungi Pak Putut,” jelasnya.

Upaya lain sebenarnya juga dilakukan Pengda PBVSI. Yakni mereka yang bersedia urunan berapapun sehingga terkumpul uang sejumlah Rp 88 juta untuk disetorkan ke KONI DIJ. Sebab, pihaknya juga tidak hanya bisa mengandalkan menjual mobil yang belum tentu dalam dua tiga hari laku terjual. Karena batas akhir pembayaran harus sudah disetorkan sebelum tanggal 15 Juni.

“Kemarin malam kami rapat untuk urunan dari semua anggota, kalau nanti memang mobil Pak Putut terjual, uangnya dgunakan untuk mengembalikan ke mereka yang urunan,” tandasnya.(dya/dem/ong)