HERU PRATOMO/RADAR JOGJA
DUA JAM SEHARI: Pengemudi becak dan pedagang kaki lima belajar membaca Alquran bersama-sama setiap hari di Masjid Malioboro DPRD DIJ.

Tak Ada Rasa Canggung, Dilakukan Intensif Setiap Hari

Setelah meluluskan sejumlah Pengemudi becak, PKL serta warga Malioboro lainnya April lalu. Kini, Paguyuban Kawasan Malioboro (PKM) kembali menggelar program Komunitas Malioboro Belajar Quran. Pada edisi Ramadan ini terdapat 30 orang yang ikut serta.

HERU PRATOMO, Jogja
MASJID Malioboro DPRD DIJ Senin pagi (13/6) terlihat lebih ramai. Tidak hanya jamaah yang hendak menunaikan ibadah salat Dhuha saja, tapi juga terdapat pengayuh becak dan pedagang kaki lima (PKL) Malioboro yang sudah duduk-duduk di sana.

Mereka duduk di atas tikar sembari memegang buku iqra. Didampingi pendamping, mereka mulai melafalkan huruf hijaiyah. Yang sudah bisa, langsung membaca Alquran.

Selama sekitar dua jam, mereka bersedia untuk menghentikan aktivitas ekonominya dan pergi ke masjid. Meski sudah tergolong tidak muda lagi, tidak ada rasa canggung untuk belajar membaca Alquran. Kegiatan yang digelar gratis tersebut, menarik minat komunitas di Malioboro. Terlebih saat masuk Ramadan.

Ketua Presidium PKM Sujarwo Putra mengatakan, sebagian besar peserta belajar membaca Alquran dari nol. Sisanya ikut untuk memperbaiki bacaan dengan mengikuti kelas tahsin. Para peserta akan belajar secara insentif setiap hari hingga 26 Juni mendatang.

“Pelajaran dimulai tiap hari pukul 10.00 hingga menjelang salat Duhur,” ujarnya di sela Kick off program Komunitas Malioboro Belajar Quran babak ke-2 di Serambi Masjid Malioboro DPRD DIJ.

Untuk tenaga pengajar, bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Al-Azhar serta Lembaga Dakwah dan Pembangunan Masyarakat (LPDM) Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY).

“Komunitas Malioboro Belajar Quran babak pertama digelar pada November 2015 hingga April 2016, pertemuan satu minggu sekali. Setelah wisuda itu ternyata peminatnya tambah banyak,” ujar Jarwo, sapaannya.

Jarwo mengharapkan, dengan kegiatan itu bisa mengubah perilaku dan akhlak yang bisa dipraktikkan ketika bekerja kembali di lapangan. “Tujuan utamanya adalah terwujudnya kawasan Malioboro yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi pengunjung,” ungkapnya.

Jarwo mengaku, jika program ini dinilai berhasil, program serupa akan digelar berkelanjutan. “Sejauh ini responsnya bagus,” ujar Jarwo.

Ketua LDPM UCY Difla Nadjih mengatakan, untuk edisi Ramadan ini materi dipadatkan dan diajarkan intensif tiap hari. Nantinya setiap peserta akan dapat membaca Alquran dalam 12 hari. Peserta dikenalkan dengan cara mudah mengenal huruf Arab, juga metode agar mereka tidak lupa dengan pelajaran yang telah diberikan sebelumnya.

“Kami menggunakan metode al-muyassar yang efektif untuk belajar Alquran,” jelasnya.

Selain mengaji, para peserta juga dibekali pemahaman tentang keimanan dan akhlak. Yang diberikan setiap hari selama sepuluh menit sebelum pelajaran membaca Alquran dimulai.

Salah seorang peserta Sumartono mengaku bersemangat mengikuti kegiatan tersebut. Pengemudi becak yang baru belajar membaca sejak delapan bulan lalu itu, bahkan sudah menargetkan untuk bisa mengajari orang lain mengaji.

Baginya, baru mulai belajar mengaji pada usia 42 tahun, sekaligus untuk melawan rasa malu. Diakuinya, sempat ada rasa canggung untuk belajar bersama orang yang lebih muda. “Untungnya banyak orang yang seumuran ikut,” ujarnya terkekeh.

Jika sukses, Sumartono rencananya diwisuda pada 30 Juni nanti. Acara wisuda direncanakan digelar bersamaan dengan buka bersama dengan anak yatim. (ila/ong)