SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
SLEMAN – Satreskrim Polres Sleman akhirnya menangkap enam anak pelaku penyerangan warung di daerah Harjobinangun, Pakem pada awal puasa lalu, Senin (6/6). Enam anak yang tercatat sebagai pelajar sebuah SMA swasta itu akhirnya ditetapkan sebagai tersangka perusakan kemarin.

Kapolres Sleman AKBP Yulianto mengatakan, kejadian tersebut adalah imbas adanya perselisihan antargeng anak sekolah. Korban penyerangan berasal dari MAN Pakem yang diketahui memiliki geng sekolah bernama MTZ atau singkatan dari MAN Tengah Zawah. Sedangkan lawannya adalah Respect, geng sekolah SMA Muhammadiyah 7.

“Keduanya sebelumnya ada permasalahan. Terus janjian mau saling berkelahi. Namun, salah satu mendahului. Dari kubu MAN Pakem tiga sepeda motor rusak,” kata Yulianto kepada wartawan, kemarin (13/6).

Dari hasil penyelidikan petugas, didapati enam anak yang menjadi otak penyerangan dan membawa senjata tajam. Mereka adalah YS, FZ, FZL, BGS, ADT, dan RDN. Hampir semuanya masih duduk di kelas 10 dan berusia 17-18 tahun. “Mereka saat ini kami tahan di panti sosial Bina Remaja,” kata perwira dua melati di pundak itu.

Dipaparkan, masing-masing tersangka memiliki perannya masing-masing. Seperti YS perannya sebagai provokator atau otak penyerangan. Kemudian FZ dan ADT ikut membawa senjata tajam berupa pedang. Lalu BGS membawa senjata tajam berupa celurit cakram, FZL membawa pemukul dan pelaku yang memecah kaca serta lampu motor. Sedangkan RDN ikut membawa senjata tajam jenis pedang.

Saat kejadian, polisi sempat menerangkan ada sekitar 30 hingga 40 anak yang melakukan perusakan di warung milik Agus Rujito pada hari pertama puasa itu. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan jumlah tersangka kasus tersebut bisa bertambah.

“Sudah kami identifikasi siapa-siapa orangnya. Ada indikasi juga salah satu alumni yang ikut. Nanti akan kami panggil anaknya, atau keluarga jika beriktikad baik silakan serahkan ke polres,” ujar mantan Kapolres Kulonprogo itu.

Selain menangkap pelakunya, petugas juga menyita puluhan senjata tajam yang diduga akan digunakan untuk tawuran. Senjata-senjata tersebut berupa 12 buah gir, 21 parang, dua kapak 2, dua stik besi, empat celurit, dan dua celurit cakram serta satu botol bom molotov yang belum sempat digunakan. Senjata itu didapat di rumah dua orang pelajar dari pihak SMA Muhammadiyah 7.

“Markas mereka di Jogja, tempat yang biasa digunakan untuk nongkrong, sudah digeledah tidak ada apa-apa. Namun, dari salah satu anggota geng itu ada sekian banyak senjata yang berbahaya jika benar-benar digunakan tawuran,” katanya.

Kepada para tersangka, polisi menjerat Pasal 170 dan 406 KUHP dan undang-undang darurat No 8 Tahun 1950 dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara. Yulianto menegaskan, pihaknya tidak menginginkan lagi adanya geng sekolah. Sebab, hal itu cenderung menyebabkan tawuran antarpelajar.

“Berharap adik-adik yang sekolah SMP-SMA tidak ada coba-coba berbuat kerusuhan antargeng atau tawuran. Kalau terjadi lagi, kami tidak akan kasih ampun, akan diproses tuntas dan tindak tegas,” ungkapnya.

Dia mengharap peran orang tua sekolah dan lingkungan agar lebih mengawasi. Termasuk alumni jangan mencekoki juniornya hal-hal yang buruk.

Sementara itu, salah satu tersangka dari SMA Muhammadiyah 7 Jogjakarta, YS mengatakan, ketegangan kelompoknya Respect dengan MTZ bermula dari menggeber-geber motor. Dia mengaku, sebelumnya anggota MTZ menggeber motor di jalan dekat warung tempat kelompoknya biasa nongkrong.

Kesal dengan hal itu, mereka kemudian mencari tahu anak yang menggeber motor tersebut. “Mereka duluan, nggeber-nggeber motor. Kami cari informasi, terus kami tantang lewat pesan singkat,” katanya.

Belum sempat terjadi perkelahian di hari yang dijanjikan, kelompok Respect lebih dulu mendatangi tempat nongkrong MTZ dan melakukan perusakan. (riz/ila/ong)