MUNGKID – Korban kasus pelecehan seksual di Kecamatan Tempuran ada enam anak. Mereka merupakan siswa SD hingga SMA dengan usia berkisar 12-16 tahun. Keluarga korban pun merasa terpukul atas peristiwa ini.

Plt Kepala Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Antasena Salaman Agung Suhartoyo mengatakan, penyebab pelecehan seksual yang menimpa anak-anak bisa disebabkan karena beberapa hal. Di antaranya pengaruh lingkungan, antarsaudara tidak ada pola kepengasuhan, dan kurangnya kesadaran dari lingkungan.

Menurutnya, pola bermain anak selalu diawasi. Saat maghrib mestinya anak sudah berada di rumah. “Selain itu juga perlu adanya pertemuan anak dan orang tua yang berkualitas. Setiap hari minimal 10-20 menit bertemu,” kata Agung kemarin (13/6).

PSMP Antasena Salaman merupakan instansi di bawah koordinasi Kementerian Sosial. Panti ini juga menampung anak-anak korban pelecehan seksual dan kasus lain yang menyangkut anak. Kini, panti itu menampung 63 korban kejahatan seksual.

Agung menjelaskan, penyebab pelecehan seksual lebih banyak karena kurang baiknya pola asuh keluarga terhadap anak. Kurang baiknya pola asuh mengakibatkan anak tidak punya daya tolak ketika diajak melakukan sesuatu. Dengan demikian, anak cenderung manut begitu saja.

“Dari sejumlah kasus yang kami dampingi, banyak pelaku maupun korban yang kesehariannya ikut kakeknya. Dengan demikian mereka kurang pengawasan,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, penyebab anak ikut kakek rata-rata karena rumah tangga orang tuanya pisah. Ada juga orang tuanya masih utuh, tetapi sering bertengkar. Hal ini berakibat situasi rumah tangga tidak kondusif.

Agung yang juga Kasi Program dan Advokasi Sosial itu menguraikan, sejak berlakunya UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, PSMP Antasena Salaman menampung sekaligus mendampingi anak-anak bermasalah. Baik karena persoalan hukum, maupun korban kejahatan seksual.

Sejak Januari sampai 15 Mei lalu pihaknya menampung 83 anak yang tersandung masalah hukum. “Dari jumlah itu kebanyakan kasus pencurian. Mereka berasal dari wilayah Jateng, Jatim, Jogjakarta, semua Kalimantan kecuali Kalsel,” urainya.

Sementara untuk korban kejahatan seksual terdapat 63 anak yang nginap di Antasena. Mereka berasal dari Magelang dan ditangani di PSMP Antasena. Selain itu masih ada korban pelecehan seksual warga Magelang yang tidak tertampung. Yakni tiga lelaki korban pelecehan seksual orang dewasa warga Kecamatan Mungkid. Serta, dua korban pelecehan seksual yang pelakunya berumur 13 tahun warga Kecamatan Tegalrejo.

“Selain itu ada enam anak warga Tempuran yang menjadi korban kejahatan seksual dari pria berumur 37 tahun,” katanya. Para korban yang berada di luar lembaga itu mendapat pendampingan dari petugas satuan bakti pekerja sosial (sakti peksos) Antasena.

Bentuk pendampingannya ketika proses sidang di Pengadilan Negeri dan pendampingan sosial. “Pendampingan kami lakukan untuk mengembalikan psikologi baik korban maupun pelaku,” kata dia.

Kasubag Humas Polres Magelang AKP Sugiyanto mengatakan, polisi menerima laporan dari orang tua korban pelecehan seksual. Setelah itu petugas mengorek informasi dari beberapa korban.

“Polisi mengumpulkan alat bukti untuk menguatkan kejahatannya dengan didukung bukti yang cukup. Polisi juga mencari dan menangkap pelaku,” jelasnya. (ady/laz/ong)