Pemberantasan penyakit masyarakat juga dilakukan Pemkab Bantul. Bedanya, Satpol PP Bantul lebih fokus razia kawasan Pantai Parangtritis dan Parangkusumo yang diduga menjadi tempat mangkal wanita malam alias pekerja seks komersial (PSK). Hanya, rencana penertiban bakal direalisasikan usai Lebaran. Kasat Pol PP Bantul
Hermawan Setiaji mengatakan, penertiban awal menyasar para penghuni penginapan yang menjajakan esek-esek di kawasan pantai selatan itu. Bukan bangunannya. Hermawan beralasan, banyak wanita malam penghibur yang notabene bukan warga Bantul.

“Yang asli Bantul bisa dihitung,” bebernya kemarin.

Hermawan mencontohkan hasil pendataan di kawasan Pantai Pelangi (barat Pantai Kusumo) belum lama ini. Di satu titik saja diketahui ada 40 orang yang beroperasi. Dari jumlah itu, tiga diantaranya warga Bantul. “Wanita-wanita malam (PSK) itu isinya,” lanjut Hermawan.

Sesuai intruksi bupati Bantul, usai penertiban, seluruh warga non Bantul yang berdiam di sekitar kawasan Pantai Parangtritis dan Pantai Parangkusumo harus dikembalikan ke daerah asal masing-masing.

Nah, agar penertiban berjalan efektif Satpol PP bakal menggandeng perangkat Kelurahan Parangtritis untuk pendataan.

Terpisah, Staf Seksi Perlindungan Anak Dinas Sosial DIJ Subakir menyatakan, instansinya memang selalu menjadi rujukan pelimpahan anak jalanan dan perempuan hasil razia Satpol PP maupun Polres. “Bahkan ada anak perempuan di bawah umur,” ungkapnya.

Subakir tidak mengetahui persis identitas remaja putri yang diduga berasal dari Wonosobo, Jawa Tengah itu. Gadis belia tersebut tak membawa tanda identitas apapun. Kini, ABG bau kencur itu diikutkan dalam program assessment Dinsos DIJ.

“Nanti kalau mau dipulangkan, ya, kami pulangkan. Tapi, kalau dia mau belajar keterampilan dulu tentu kami fasilitasi,” bebernya.

Usut punya usut, remaja putri ini dikabarkan bekerja sebagai pemandu karaoke di kawasan Pantai Parangkusumo. Dia terjaring razia saat berkencan dengan seorang tamu pada awal bulan lalu.(zam/yog/ong)