JOGJA-Tinggal 83 hari lagi jelang PON 2016, persoalan dana belum juga berujung manis. Terutama bagi cabang olahraga (cabor) yang atletnya hanya bisa menyandang status mandiri. Yakni atlet yang saat kualifikasi atau Pra-PON tidak bisa memenuhi kriteria KONI DIJ untuk tembus empat besar level Kejuaraan Nasional atau juara pertama level Kejuaraan Wilayah. Imbasnya, mereka yang berstatus mandiri, hanya diberi bantuan 50 persen untuk biaya keberangkatan. Juga selama mengikuti ajang multievent terbesar di tanah air yang berlangsung September 2016 mendatang.

“Khusus untuk atlet mandiri ini masih seperti periode yang lalu, sesuai kemampuan pemerintah daerah, bantuan dari KONI hanya 50 persen,” kata Ketua Umum KONI DIJ, GBPH Prabukusumo di kantornya, kemarin (14/6).

Dikatakan, pihaknya tidak ingin gegabah untuk membiayai 100 persen seperti yang diharapkan cabor yang atlet dan pelatihnya berstatus mandiri. Karena KONI DIJ memiliki ketentuan berupa klasifikasi sesuai dengan prestasi atlet itu sendiri, yakni unggulan, reguler dan mandiri.

KONI DIJ tidak bisa gegabah mengambil langkah, karena PON selanjutnya akan dilaksanakan di Papua, yang dari sisi pendanaan akan jauh lebih besar ketimbang PON tahun ini yang dari segi geografis letaknya lebih dekat.

“Karena kami harus memikirkan periode selanjutnya karena PON di Papua, kalau yang sekarang minta 100 persen dan kami sanggupi, besok yang mandiri juga akan nuntut 100 persen dibiayai, pasti akan berat,” paparnya.

Berkomitmen membantu 50 persen, langkah KONI DIJ tidak terhenti sampai di situ. Karena pioritas adalah membantu atlet mandiri agar tidak terbebani masalah dana, KONI DIJ mengambil langkah sowan ke pemerintah daerah untuk bersinergi. Hasilnya, Pemkab Sleman melalui KONI Sleman bersedia membantu kekurangan 50 persen, untuk atlet dan pelatih mandiri asal Sleman. Hal serupa juga diikuti Kabupaten Kulon Progo yang menyatakan siap untuk menanggung sisa biaya atlet dan pelatihnya.

“Pemkab Bantul akan bantu Rp 2,5 juta per atlet, sementara infonya seperti itu. Kami juga masih akan sowan dengan Wali Kota Jogja dan Bupati Gunungkidul, karena surat resmi juga sudah kami kirim,” paparnya

Sementara itu, proses entry by name untuk atlet mandiri tetap akan dilanjutkan hingga tanggal 17 Juni sesuai jadwal. Meskipun jadwal pengumpulan atau pembayaran atlet dan pelatih mandiri hingga 15 Juni 2016.

“Karena nanti ada proses verifikasi oleh sistem. Entry by name untuk keabsahan atlet, kalau ternyata tidak bayar, sistem secara otomatis akan menghilangkan nama si atlet dari daftar kepesertaan,” jelas Anggota Bidang Binpres KONI DIJ Andi Hirawan.

Ditambahkan, proses verifikasi biasa berlangsung hingga seminggu, kemudian panitia akan memberikan waktu dua sampai tiga hari bagi cabor untuk menyelesaikan pembayaran.

“Setelah tanggal 17 data akan diverifikasi seminggu, setelah itu dua sampai tiga hari diberi waktu lagi untuk pembayaran. Jadi masih bisa hingga tanggal 20-an untuk pembayaran, tapi setelah batas itu, nama akan dicoret,” tandasnya.(dya/dem)