GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
JOGJA – Jelang lebaran ini, jika di lahan parkir ilegal meraup untung, berbeda dengan tempat parkir resmi. Di Tempat Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali (ABA) lantai dua dan tiga khusus sepeda motor malah buntung. Mereka kalah bersaing dengan parkir ilegal yang lebih dekat dengan Malioboro.

Tarif yang berlaku di lokasi parkir ilegal tidak berlaku progresif seperti di TKP ABA. Pengguna parkir cukup memberi uang Rp 2 ribu sampai berjam-jam tak akan naik. Sedangkan di TKP ABA, tarif parkir berlaku progresif. Pada jam pertama seribu rupiah, kemudian naik 50 persen atau Rp 500 tiap jamnya.

Ketua Forum Komunikasi Pekerja Parkir Yogyakarta Hanarto mengaku, jelang lebaran maupun tidak, mereka sama saja. Tak ada peningkatan kendaraan. Lantai tiga tak pernah terpakai. Ini karena sepinya kendaraan roda dua yang memanfaatkan parkir portable tersebut.

“Mau gimana lagi. Kami sudah berbusa-busa minta solusi ke pemkot. Tapi sama saja. Kami hanya bisa pasrah,” tandas Hanarto, kemarin (14/6).

Narto, sapaannya, mengungkapkan, juru parkir (jukir) di TKP ABA saat ini mengalami masa-masa terberat. Setiap hari, parkir di lantai dua yang hanya terisi. Itu pun tak pernah pernuh. Dari daya tampung 1.200 kendaraan roda dua, hanya terisi 50 persennya.

“Mau ke sini (lantai dua) harus naik. Sementara di parkir sirip Malioboro sudah dekat, nggak perlu ngrekoso,” jelasnya.

Dia mengatakan, langganan karyawan toko dan pekerja lain di Malioboro tak ikut berpindah ke TKP ABA. Mereka lebih banyak yang parkir di depan tempatnya bekerja atau di tempat paling dekat. “Sudah banyak, khususnya untuk tempat parkir karyawan,” sesalnya.

Melihat kondisi tersebut, Narto mengaku, pihaknya tak bisa berbuat banyak. Apalagi, meminta penertiban, hal tersebut sulit terealisasi. Ini bertambah jelang lebaran. Penertiban yang seharusnya lebih dirutinkan malah seperti lampu hijau. “Di sini hanya kelap-kelop menunggu motor datang,” katanya.

Jelang lebaran ini Malioboro memang masih menjadi tempat jujugan belanja. Ini tampak dari aktivitas perdagangan maupun pengunjung di Pasar Beringharjo. Setiap menjelang lebaran, di Jalan Pabringan selalu muncul parkir tiban. Meski, sebenarnya di waktu normal, jalan tersebut kawasan larangan parkir.

Begitu pula di beberapa titik. Seperti Jalan Ketandan, Jalan Dagen, dan Jalan Pajeksan. Jukir dadakan mulai muncul. Meski, mereka ini tak seperti jukir biasanya. Mereka menawarkan parkir dengan diam. Tak aktif sampai melambai-lambaikan tangan ke pengguna sepeda motor.

Soal penertiban ini, Pemkot Jogja pun seolah saling lempar tanggung jawab. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja yang berwenang hanya menegaskan, jika penertiban berjalan terus. Termasuk menjelang lebaran ini.

“Kalau penertiban jalan terus. Tapi, soal penanganan di Malioboro ada di UPT Malioboro,” kata Kepala Dishub Kota Jogja Wirawan Haryo Yudo.

Mantan Camat Gedongtengen ini mengatakan, penanganan parkir di Malioboro ini akan berhenti saat lebaran mendatang. Karena, saat itu sudah diprediksi lahan parkir di sekitar Malioboro bakal penuh sesak. “Kami sudah siapkan road map lahan parkir khusus. Bisa dimanfaatkan untuk parkir sementara,” jelas Yudo. (eri/ila/ong)