DWI AGUS/RADAR JOGJA
SISTEM IMUN: Proses penelitian cincau hijau yang dilakukan untuk melihat manfaatnya bagi tubuh. Penelitian ini dilakukan oleh lima mahasiswa dari Fakultas Biologi UGM.

Resep Kearifan Lokal, Solusi dalam Menjaga Kesehatan Tubuh

Cincau hijau tidak hanya dikenal memiliki rasa yang segar. Berdasarkan penelitian, cincau hijau memiliki manfaat kesehatan terutama dalam meningkatkan kekebalan tubuh. Inilah hasil penelitian dari lima mahasiswa Fakultas Biologi UGM Rendi Mahadi, Krisnanda Surya Dharma, Mustafid Rasyiid, Lindia Anggraini, dan Rahma Nurdiyanti.

DWI AGUS, Jogja
CINCAU hijau merupakan resep kearifan lokal yang telah ada sejak dulu. Untuk membuatnya tak terlalu rumit. Hanya merendam daun cincau hijau dan mendinginkan air perasannya. Selain segar, cincau ternyata bermanfaat untuk sistem imun atau kekebalan tubuh.

Lima mahasiswa Fakultas Biologi UGM membuktikan hal itu melalui penelitian. Hasilnya, cincau hijau memang dapat meningkatkan imunitas tubuh. Sehingga dapat menjadi imunomodulator untuk membantu meningkatkanmekanisme pertahanan tubuh.

“Kami melakukan penelitian lebih mendalam tentang cincau hijau. Untuk mengetahui kandungan senyawa di dalamnya. Juga melihat efek dari ekstrak daun cincau hijau terhadap aktivitas makrofag atau sel imun,” kata Rendi ditemui di kampusnya, Senin (13/6) lalu.

Penelitian ini merupakan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) UGM. Dalam kesempatan ini, timnya meneliti dengan berbagai cara. Pertama, mengonsumsi suplemen sintetik atau sumber imunomodulator maupun antioksidan alami.

“Membandingkan dengan konsumsi obat-obat buatan pabrik. Sumplemen sintetik terkadang menimbulkan efek samping dan harganya relatif mahal. Sehingga penelitian ini bertujuan melihat potensi alami dari ekstrak cincau hijau,” ungkapnya.

Rendi menjelaskan, timnya membagi menjadi tiga macam ekstrak daun cincau hijau yaitu ekstrak kloroform, ekstrak etil asetat, dan ekstrak etanol. Penelitian selanjutnya menguji imunomodulator. Pengujian awal ekstrak dilakukan kepada sel makrofag tikus. Selanjutnya, uji antioksidan menggunakan sepektrofotometer untuk melihat nilai indeks aktivitas antioksidan (IAA).

Langkah terakhir, penggolongan senyawa menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis. Tujuannya, melihat senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun cincau hijau. Hasilnya menunjukkan esktrak daun cincau hijau memiliki berbagai senyawa metabolit sekunder seperti golongan senyawa tarpenoid, flavonoid, fenolik, dan tanin.

Senyawa metabolit sekunder berfungsi sebagai imunomodulator dan antioksidan alami. Senyawa-senyawa tersebut menjadikan sel-sel makrofag tubuh lebih aktif dalam memakan patogen. “Selain itu juga aktif dalam menangkal radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh,” ujarnya.

Penelitian ini juga menunjukkan ada hasil lain yang bermanfaat. Nilai indeks aktivitas antioksidan (IAA) dalam ekstrak daun cincau hijau cukup tinggi. Rendi mengungkapkan, kisaran angka antara 6,3 hingga 7,2. Artinya tergolong memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat.

Sebagai acuan untuk indeks nilai standar IAA lebih besar dari 2. Selain itu, nilai kapasitas dan indeks fagositosis makrofag juga tinggi.

Pengolahan dari daun cincau hijau juga beragam. Dari minuman, suplemen alami, atau obat-obatan herbal. “Daun cincau hijau dapat menjadi salah satu solusi bagi masyarakat dalam menjaga kesehatan tubuh, terutama bagi masyarakat yang memiliki aktivitas padat setiap harinya,” katanya. (ila/ong)