GUNUNGKIDUL – Ajaran agama apapun tegas melarang seseorang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Namun, di Kabupaten Gunungkidul fenomena itu ibarat gunung es. Setiap tahun selalu terjadi kasus bunuh diri. Depresi karena sakit menahun dan faktor ekonomi menjadi motif paling dominan yang mendorong seseorang mengakhiri hidup.

Sejak awal Ramadan, Polres Gunungkidul mencatat lima kasus bunuh diri. Jumlah itu menambah panjang deretan kasus yang ditangani kepolisian selama lima bulan terakhir di 2016. Total tercatat 20 kasus.

” Modus paling dominan dengan gantung diri. Sebagian lainnya dengan meminum racun,” jelas Panit Humas Polres Gunungkidup Iptu Ngadino kemarin (15/6).

Meski angka kasus terbilang cukup banyak, Ngadino menyebut adanya tren penurunan dibanding tahun lalu. Kendati demikian, melihat sisa waktu hingga akhir 2017 masih enam bulan, bukan tidak mungkin angka kasus akan bertambah.

Data tertinggi terjadi pada 2012 sebanyak 39 kasus. Setahun berikutnya turun menjadi 29 kasus. Jumlah perkara bunuh diri sempat menurun pada 2014, menjadi 19 kasus. Lalu, naik lagi menjadi 31 kasus di 2015.

Hal tersebut tentu saja mengundang keprihatinan banyak pihak. Pihak kepolisian juga cukup kewalahan menangani perkara tersebut. “Harus ada upaya ekstra untuk menakan angka bunuh diri,” tutur Ngadino.

Nah, untuk mengantisipasi lonjakan perkara, Polres Gunungkidul kian gencar melakukan sosialisasi pencegahan bunuh diri. Untuk meyakinkan masyarakat, aparat menggandeng tokoh agama dan masyarakat panutan, serta psikolog.

Ngadino berharap peran serta semua pihak untuk menekan kasus bunuh diri. Tak kalah penting, perlunya kesadaran masyarakat agar tak mudah melakukan bunuh diri hanya karena merasa tak sanggup menanggung beban hidup.

Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi menaruh perhatian serius terhadap maraknya kasus bunuh diri. Menyikapi persoalan tersebut, Immawan berencana menggandeng kalangan akademisi untuk pendampingan masyarakat. Langkah awal, pemkab akan memetakan masyarakat yang berpotensi bunuh diri. Para akademisi bertugas memberikan pelatihan dan pembinaan, sekaligus penyegaran rohani tentang larangan bunuh diri. “Kami akan bentuk semacam satgas khusus yang bertugas mencegah kasus bunuh diri,” ujarnya.

Kendati demikian, Immawan menegaskan bahwa pemkab butuh peran serta masyarakat dalam upaya menekan angka bunuh diri. Perlu adanya peran aktif setiap warga untuk turut membantu pemerintah menanggulangi dan mencegah seseorang bunuh diri. Setidaknya, jika warga mendapat informasi adanya seseorang yang akan bunuh diri agar segera melapor ke satgas atau perangkat desa setempat. Selanjutnya, satgas harus segera turun tangan mendampingi orang yang akan mengakhiri hidupnya dengan cara tak wajar tersebut.

Sebagaimana marak diberitakan, sebagian warga Gunungkidul masih percaya oleh mitos pulung gantung. Jika ada cahaya merah menembus atap rumah seseorang, warga percaya bahwa tidak terpaut lama ada anggota keluarga di rumah tersebut yang meninggal dengan cara gantung diri. Mitos itu menjadi salah satu “PR” yang harus diluruskan di era modern saat ini.(gun/yog)