Keputusannya merantau ke Jogja untuk menempuh pendidikan jadi keputusan yang menguntungkan bagi Rangga. Sambil meniti jenjang pendidikan, Rangga juga sekaligus bisa menjalani hobi dan karirnya di sepakbola.

Tercatat sebagai mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadyah Yogyakarta (UMY) tahun 2011, Rangga tetap konsentrasi untuk menyelesaikan pendidikan yang diambilnya. Padahal sejak 2014, dirinya sudah mulai bergabung sebagai pemain muda di PSIM Jogja.

“Tadinya mau kuliah di Semarang, tapi akhirnya di Jogja,” ungkapnya.

Bidang yang diambilnya juga tidak ada hubungannya dengan olahraga, apa lagi sepak bola. Karena itu, Rangga bertekad ingin menyelesaikan pendidikannya secepat mungkin.

Tidak mudah baginya untuk memparuh waktu, antara latihan, pertandingan dan kuliah. Apalagi jarak antara wisma dan kampusnya lumayan menghabiskan waktu di jalan. Belum lagi harus menghadapi dosen yang tidak semuanya memberi kemudahan soal waktu dan perijinan. Kalau pun terpaksa absen ujian, dirinya tetap akan menyusul ketertinggalan sendiri.

Tapi tekadnya sudah bulat, meski sudah terjun di level profesional, dirinya tetap ingin memiliki gelar kesarjanaan.

“Targetku tahun depan lulus, sekarang lagi skripsi, semoga dilancarkan,” harapnya.

Pemain yang saat kecil sempat menekuni balu tangkis ini juga tidak menyangka jika dirinya bisa masuk tim Divisi Utama, saat proses menjalani pendidikan. Untuk itu, dirinya bertekad merampungkan kuliah agar nantinya bisa fokus seratus persen di sepakbola.

“Kalau saya tidak main bola lagi kan saya bisa memanfaatkan keahlian saya, tapi tetap saya tidak bisa lepas dari sepak bola,” tegasnya.(dya/dem)