Bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Kalimat itu nampaknya pas disemayamkan kepada keluarga Mbah Mujilah, 83. Nenek warga Dusun Gatak Krajan 2/3, Gunungpring, Muntilan itu mampu meraup omset sekitar Rp 1 juta / hari setelah memproduksi makanan khas Ramadan Jemunak.

Bakda subuh, keluarga Mbah Mul sudah disibukan dengan memproduksi makanan khas Ramadan, Jemunak. Memang pembuatan Jamunak ini dilakukan sejak pagi buta. Selain banyaknya pembeli yang memesan, proses pembuatanya pun cukup menyita waktu.

Jemunak merupakan makanan khas saat Ramadan tiba. Bahkan pengakuan dari keluarga Mbah Mul, Jemunak ini hanya ada di Desa Gunungpring saja. Makanan ini sudah sejak nenek moyang terdahulu, usia makananya berkisar 100 tahun lebih.

“Banyak yang bilang bahwa, Jemunak itu ngaji nemu penak. Setelah ngaji ramadan terus pada makan enak,” kata Mbah Mul, pembuat makanan Jemunak.

Makanan jemunak sudah ada sejak sejak Mbah Mul kecil. Ia membuat Jemunak dari turun temurun. Mbah Mul merupakan generasi ke tiga yang memproduksi Jemunak yang kini dibantu oleh anak-anaknya.

“Jemunak sudah ada sejak dulu, adanya saat Ramadan saja,” katanya.

Jemunak dibuat dari ketela atau singkong, ketan, parutan kelapa, dan cairan gula jawa (juruh). Proses pembuatanya cukup sederhana. Ketela diparut lalu direbus sekitar 15 menit. Untuk ketannya juga direbus setengah matang. Keduanya dijadikan satu, lalu direbus kembali secara bersamaan.

Mbah Mul biasa merebus menggunakan bahan bakar kayu. Penggunaan kayu dinilai lebih matang dibanding bahan bakar lainya. Setelah itu keduanya dicampur dan ditumbuk sekitar 15 menit. Jemunak sudah siap dihidangkan dengan parutan kelapa dan cairan gula jawa.

“Parutan kelapa dan cairan gula untuk ditabur diatas Jemunak. Setelah itu dibungkus menggunakan daun pisang,” ujar Kasmirah, 47, putri dari Mbah Mul.

Menurut Kasmirah, Jemunak lebih enak dibungkus menggunakan pakai daun. Jika dengan kertas minyak, bukan tidak mungkin bisa mengurangi rasa khas Jemunak.

Kasmirah mengaku membuat Jemunak sejak subuh hingga menjelang maghrib. Rata-rata setiap hari menghabiskan ketela 25 kg, ketan 7 kg, parutan kelapa 8 biji, gula jawa 6 kg. Bahan-bahan itu dibeli dengan modal Rp 200 ribu.

“Dari bahan itu bisa menjadi 1.000 bungkus Jemunak. Per bungkus harganya Rp 1.500, tapi untuk tengkulak harganya Rp 1.250,” jelasnya.

Selain dibeli warga sekitar Magelang, jemunak ini juga dibeli orang luar kota. Bahkan, utusan Kasultanan Jogja juga pernah membeli ke Muntilan langsung.

“Ramadan seperti ini belum puas kalau belum makan jemunak,” katanya.

Selain Mbah Mul, ada juga yang menjual jemunak di Dusun Bintaro, Gunungpring maupun Santren, Gunungpring. Untuk yang menjual di Santren, Gunungpring, yakni Ny Asminah, 50.

“Saya sudah sejak lama berjualan jemunak ini. Ini hanya ada saat Ramadan saja. Saya hanya meneruskan usaha dari yang sebelumnya,” katanya.

Sementara, salah satu pembeli, Ria, 29, warga setempat mengaku, kalau buka Puasa Ramadan belum menikmati Jemunak rasanya masih ada yang kurang. Untuk itu, rata-rata setiap hari dia memesan jemunak.

“Kok rasanya belum makan jemunak, saat buka Puasa Ramadan masih ada yang kurang,” katanya. (ady)