ADI DAYA PERDANA/RADAR JOGJA
KERTAS BERCORAK BATIK: Alquran tulisan tangan pengikut Pangeran Diponegoro, Mbah Abdul Aziz, yang masih tersimpan di Masjid Langgar Agung.
Melihat Koleksi Masjid Langgar Agung di Lereng Perbukitan Menoreh
Masjid Langgar Agung di lereng Perbukitan Menoreh, Desa Menoreh, Salaman, Kabupaten Magelang menyimpan rentetan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Keberadaan masjid ini menjadi saksi bisu atas perjuangan pahlawan nasional dalam melawan penjajahan Belanda. Salah satu barang yang masih tersisa hingga kini adalah kitab suci Alquran tulis tangan penderek Pangeran Diponegoro.

ADI DAYA PERDANA, Mungkid
PENGELOLA masjid menyimpan beberapa barang kuno yang merupakan peninggalan era Pangeran Diponegoro. Salah satu yang menarik perhatian yaitu peninggalan kitab suci Alquran kuno.

Alquran dengan tebal berkisar 12 sentimeter berisi 400 halaman. Sampul Alquran terbuat dari bahan kulit hewan. Kondisi bagian depan sampul sudah patah, namun masih bisa disambung dengan perekat. Sampul Alquran ini kemungkinan dari kulit kerbau atau sapi.

Alquran dengan berat sekitar 1,5 kilogram itu ditulis oleh penderek (pengikut) Diponegoro. “Pembuatannya secara langsung dari tangan Mbah Abdul Aziz, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro,” Imam Masjid Langgar Agung KH Achmad Nurshodiq, kemarin (16/6).

Achmad menuturkan, berdasarkan informasi yang dia terima dari Takmir Masjid Langgar Agung yang pertama Kiai Fathoni, Alquran dibuat sebelum tahun perjuangan Diponegoro 1825-1830. Waktu itu, Alquran pertama kali ditemukan di dalam laci mimbar masjid.

“Makam penulis Alquran, Mbah Aziz, ada di Soroniten, Kalikajar, Wonosobo. Di sana juga ada masjid peninggalan beliau yang sempat hancur. Namun kini sudah direnovasi,” katanya.

Alquran itu ditulis menggunakan lidi aren. Meski beratus tahun lamanya, tinta yang digoreskan masih terlihat hitam pekat. Dia menduga tinta yang digunakan bukan tinta biasa. Sebab, hampir tidak ada tinta yang memudar. Hanya, kertas Alquran itu sudah ada yang robek di beberapa bagian. “Kalau bukan orang ampuh tidak bisa menulis sampai 30 juz seperti ini,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah Menoreh Salaman ini menjelaskan, pada bagian awal lembaran Alquran ini kertasnya dihiasi dengan corak batik warna-warni. Sementara pada lembaran berikutnya tidak ada, hanya kertas langsung ditulis ayat-ayat suci Alquran. Corak batik akan kembali terlihat pada tengah-tengah halaman.

“Selain ditemui corak batik, pada halaman tengah Alquran ini terdapat Surat Kahfi. Bagian ini yang paling utuh dibandingkan dengan halaman lain,” ungkapnya.

Alquran ini mendapat perhatian dari pemerintah. Pernah suatu waktu utusan dari Dinas Pariwisata Semarang dan Jogjakarta akan mengambil kitab tersebut. Namun, permintaan itu ditolak oleh Achmad Nurshodiq.

“Saya yakin, dengan adanya Alquran di sini masyarakat bisa tahu dan mendapat berkah. Dengan demikian masyarakat Salaman bisa belajar Alquran,” ujarnya.

Dia kini menyimpan Alquran itu di lemari khusus kitab-kitab. Terkadang, dia membukanya saat ada orang yang hendak melakukan penelitian terkait riwayat Pangeran Diponegoro.

Selain Alquran, masih ada juga benda dan tempat bersejarah peninggalan era Diponegoro. Seperti musala yang sempat digunakan bersemedi putra sulung dari Sultan Hamengkubuwana III ini. “Ada pula batu bekas tempat duduk, keris, dan lainnya,” ujarnya.

Menurut Achmad, adanya sejarah Pangeran Diponegoro di Menoreh juga sempat menarik perhatian keluarga besar Diponegoro. Raden Ayu Hayati Diponegoro saat berusia 80 tahun, lanjutnya, berkunjung ke Salaman pada tahun 1990 silam. “Cicit Diponegoro itu ke sini menyampaikan terima kasih karena sudah mengurus peninggalan Diponegoro,” katanya. (ila)