logo-jasa-raharja
JOGJA – Jelang arus mudik lebaran 2016, Direktorat Lalu Lintas Polda DIJ kembali mengingatkan kepada masyarakat supaya berhati-hati ketika melintas di jalan raya yang kondisinya rusak. Imbauan ini menyusul adanya fakta bahwa korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas terus meningkat. Apalagi, insiden kecelakaan yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh faktor kondisi jalan raya tetapi karena ulah sang pengemudi.

“Ketika akan melintas di jalur jalan yang rusak, hati-hati. Jangan ngebut dan selalu perhatikan situasi arus lalu litas di sekitarnya,” kata Direktur Lantas Kombes Pol M.H. Ritonga didampingi Kabag Ops Ditlantas Polda DIJ AKBP Sutarno kepada Radar Jogja, kemarin.

Ritonga menerangkan, saat ini sejumlah titik jalan raya dan jembatan yang rusak di Jogjakarta sedang diperbaiki. Perbaikan jalan tersebut dilakukan secara secara rutin oleh pemerintah. Selain itu, perbaikan jalan dan jembatan dalam rangka menyambut masyarakat yang akan mudik ke kampung halaman untuk merayakan lebararn 2016. “Kami sudah mulai memetakan, jalur mana saja yang akan dilalui pemudik nanti,” terang Ritonga.

Karena itu, untuk menghindari kecelakaan Ritonga meminta kepada pengemudi tidak melintasi jalur jalan dan jembatan yang sedang diperbaiki. Pengemudi dapat memilih jalur lain untuk menghindari kemacetan dan resiko terjadinya kecelakaan. “Berikan kesempatan kepada pemerintah untuk memperbaiki jalan yang rusak,” jelasnya.

Berdasarkan hasil Operasi Patuh Progo 2016 Polda DIJ mulai 16 Mei hingga 29 Mei lalu, korban kecelakaan lalu lintas yang meninggal dunia mengalami siginifikan. Selama Operasi Patuh Progo Mei lalu, jumlah kecelakaan lalu lintas mencapai 60 kasus. Dari angka tersebut, korban kecelakaan yang meninggal sebanyak 9 orang.

Angka ini meningkat 800 persen atau 8 orang dibandingkan 2015 yaitu hanya 1 orang. Sedangkan untuk korban luka berat sebanyak 4 orang dan luka ringan 84 orang. Sementara untuk kerugian materiil mengalami penurunan. Pada 2015 mencapai Rp 148 juta, tahun ini hanya Rp 37 juta.

“Kasus kecelakaan banyak terjadi di Kabupaten Sleman. Kemudian disusul Bantul, Gunungkidul, Kota Jogja, dan Kulonprogo,” papar Ritonga. (mar)