SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
SIDANG GAFATAR: Saksi dr Rica Tri Handayani (kanan) didampingi suami dalam persidangan dengan terdakwa Eko Purnomo dan Veni Orinanda di PN Sleman, kemarin (16/6).
SLEMAN – Setelah ditunggu-tunggu, dr Rica Tri Handayani, korban dugaan penculikan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) muncul ke publik. Kemunculannya ditemani suaminya Aditya Akbar Wicaksono dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Kamis (16/6).

Sidang kemarin adalah yang ketiga kalinya dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. Selain Rica dan Adit, hadir pula Sugiyanti dan Cicih Wahyu Adiningsih yang masih terhitung kerabat dengan kedua terdakwa. Terdakwa kasus tersebut adalah Eko Purnomo dan Veni Orinanda. Veni dan Rica memiliki hubungan sepupu.

Dalam kesaksiannya, Rica mengaku, dibawa pergi dari rumah Cicih pada 30 Desember 2015. Dia dibujuk oleh Veni untuk hijrah ke Kalimantan. Rica yang datang dengan mengenakan setelan warna putih terusan motif bunga, celana hitam serta kerudung merah marun menyebutkan awalnya dia menolak diajak hijrah.

“Setelah terus dihubungi, dikirimi ayat Alquran lewat WhatsApp saya lama-lama percaya saudara Veni mengajak ke jalan yang benar. Itu saat masih di Lampung,” katanya.

Perempuan yang memiliki satu putra itu mengungkapkan, pada 2012 pernah ikut kelompok Gafatar. Seingatnya, di Jogja ketuanya bernama Yudhistira. Saat menjadi anggota bersamaan masuknya dengan Veni.

“Karena tempat tinggal saya jauh, saya sering ditelepon ikut pengajian mereka. Seingat saya tempatnya di Condongcatur,” ungkapnya.

Saat masih aktif di Gafatar, dia dijelaskan konsep hijrah yang merupakan bagian sejarah nabi-nabi. Namun setelah menikah, dia tidak mengetahui perkembangan kumpulan itu dan tidak aktif lagi. Namun, saat itu Veni masih sering menghubunginya mengajak gabung lagi di Gafatar.

Veni masih selalu menanyakan kabar Rica dan anaknya. Saat itu terdakwa juga menyisipkan kabar tentang Gafatar. Pada Oktober 2015 keduanya bertemu di Jogja, saat itu terdakwa mengajaknya kembali ke Gafatar tapi Rica menolak. Sampai pada akhirnya Rica kembali ke Lampung.

Rentang November hingga Desember, Adit suami Rica menjalani pendidikan di Jogja. Saat itu Rica kembali menjalin komunikasi dengan Veni. Rica menceritakan kondisinya yang mengaku kurang mendapat perhatian dari Adit. Veni pelan-pelan lalu mengajak Rica untuk hijrah ke Kalimantan.

Menurutnya, Veni tidak akan mencelakainya karena masih sepupu. Sebelum berangkat ke Kalimantan, dokter alumni UII itu diperintahkan untuk memutus hubungan dengan keluarga karena tidak satu pemahaman. Ponselnya juga diambil, dan saat dikembalikan simcard-nya sudah tidak ada. Ponselnya juga sudah direset.

Rica berangkat dengan pesawat dan membeli tiket dengan uangnya sebanyak Rp 2 juta. “Ada juga yang berangkat bareng saya komunitas sekitar 20an orang,” katanya.

Sampai di Pontianak kemudian dengan bus dan beberapa orang dari Jogja mereka menuju Mempawah, Kalimantan Barat. Dia sempat beberapa hari di Mempawah. Namun karena gencarnya pemberitaan kemudian dia dibawa ke Pangkalanbun. Sempat berputar-putar selama dua hari lalu kembali lagi ke Pangkalanbun.

Saat ditanya hakim Ninik Hendras Susilowati, siapa yang memberi perintah saat di perjalanan dan ketika di Mempawah, Rica sedikit kebingungan. Menurutnya, supir di perjalanan yang mengarahkan jalan, setelah di Mempawah seingatnya ada kepala yang bertanggung jawab bernama Sigit.

Saat di Pangkalanbun, untuk keperluan hotel dan keperluan sehari-hari dia meminta tolong Eko. Ketika itulah tiga buah kartu ATM-nya dibawa Eko dan sampai saat ini belum dikembalikan. Kemudian, karena kabar hilangnya Rica menyebar oleh media, kedua tersangka lalu berpikiran akan memulangkan Rica.

“Perasaanya antara capek, campur aduk ketakutan. Bingung dibawa kemana-mana. Diterangkan katanya hijrah, untuk membuat koloni yang beriman diridhoi Allah. Kenyataanya, ada gunjingan, ketidakadilan, dan keresahan,” ujar Rica.

Setelah mendengarkan kesaksian dr Rica, terdakwa Veni membantah kesaksian saudara sepupunya itu. Menurutnya, Rica mempunyai keinginan berangkat sendiri. Bahkan Rica yang kerap menanyakan tanggal keberangkatan untuk hijrah.

Selain itu, Veni juga menyangkal meminta Rica untuk tidak memberitahukan keberangkatannya hijrah ke Kalimantan. Menurutnya, jauh-jauh hari dia sudah meminta Rica memberitahukan rencana hijrah ke suaminya.

“Sebelum menikah sudah saya minta untuk memberitahukan (rencana hijrah). Tapi, mbak Rica sendiri yang tidak mau memberitahukan karena takut tidak dibolehkan,” ujarnya.

Dalam sidang kemarin terjadi adu argument antara saksi dan terdakwa. Pekan depan, sidang akan dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. (riz/ila/ong)