Wujudkan Ilmu Ikhlas dan Menahan Diri Urusan Duniawi

Tadabburan bersama Emha Ainun Najib di Dusun Sempu, Wonokerto Turi dibanjiri ribuan umat. Budayawan yang akrab disapa Cak Nun itu mengupas tentang makna puasa dan ilmu ikhlas.
DWI AGUS, Sleman
Ramadan memang bulan penuh berkah dan amalan. Namun, meningkatkan amalan tak hanya saat Ramadan. Sudah seharusnya amalan Islam diterapkan dalam kehidupan rutin sehari-hari.

Momentum Ramadan bisa menjadi awal bagi seseorang untuk belajar menahan diri. Baik nafsu duniawi maupun batiniah. Kemudian, semua yang telah dipelajari tetap dipertahankan di hari-hari setelah Ramadan.

“Ramadan itu ibarat sekolah selama satu bulan. Setelahnya kita juga tetap harus berbuat sesuai amalan Islam. Termasuk menahan hawa nafsu yang berlebihan dalam kehidupan sehari-hari,” pesan Cak Nun kepada jamaah, Rabu (15/6) malam.

Dalam pemikiran Cak Nun, puasa itu tak hanya saat Ramadan. Dalam kehidupan sehari-hari pun bisa dilakukan. Setidaknya, makna dan nilai-nilai puasa itulah yang harus diamalkan dalam keseharian.

Menahan diri, terutama dalam hal kemauan duniawi dianjurkan untuk kebaikan. “Dengan berpuasa seseorang mampu melakukan sesuatu yang tidak disukai dan juga menahan diri atas apa yang dia sukai,” papar seniman berambut gonderong itu.

“Orang yang jagoan puasa pasti bisa melakukan ini. Melakukan yang tidak dia sukai tapi memiliki dampak bagus. Contohnya, menyingkirkan ego diri untuk kepentingan bersama atas asas kebaikan,” lanjut Cak Nun.

Dalam kesempatan menyapa warga di kaki Gunung Merapi, Cak Nun juga berpesan agar setiap manusia mampu mewujudkan ilmu ikhlas. Tidak tendensius dan pamrih ketika melakukan sebuah perbuatan. Karena ikhlas erat kaitannya dengan pintu rezeki dari Allah SWT.

Memang bukan hal mudah untuk mengimplementasikan ilmu ikhlas. Butuh kerja keras dan disiplin tinggi. Serta tak boleh iri atas keberhasilan orang lain. Namun, menjadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk berbuat lebih baik.

“Kerja disiplin, jangan iri karena manusia memilik rezeki sendiri-sendiri. Ojo gampang meri nek ono tonggone sek sukses,” pesannya.

Cak Nun juga berpesan agar manusia selaras dengan alam. Terutama bagi warga Wonokerto Turi yang dekat dengan Gunung Merapi. Apalagi wilayah itu masuk dalam kawasan rawan bencana.

Diingatkannya, bencana erupsi Merapi tak hanya berdampak negatif. Sisi positifnya, abu vulkanis gunung aktif itu justru menambah kesuburan tanah di sekitarnya. Bisa dilihat dari tanaman endemis salak yang tumbuh subur di lereng Merapi.

“Yang dipercaya untuk menjaga alam adalah orang terpercaya. Merapi adalah gunung yang mencintai kita dan kita harus mencintainya. Awan panas itu berkah buat kita, karena unsurnya bisa menyuburkan tanah,” tuturnya berfilosofi.(yog/dem)