SATU bulan terakhir, sosok perempuan berkerudung yang selalu menyambut ramah para pengelola agen koran Jawa Pos Radar Jogja itu tidak lagi terlihat di meja kerjanya, bagian pemasaran. Sosok yang di mejanya selalu tersedia makanan kecil atau camilan dan selalu dirusuhi teman-temannya itu, sejak Kamis (9/6) lalu terbang ke Guangzhou, Tiongkok, untuk menjalani pengobatan penyakitnya, kanker payudara.

Nur Kamsiyah, kelahiran Nganjuk, 25 Maret 1971 yang akrab disapa Bu Nunung dan sebagian lainnya memanggilnya Umi itu, berobat ke Tiongkok didampingi suaminya, Joko Wahyudi. Semangat untuk menaklukkan penyakitnya itu cukup tinggi. Namun, kuasa takdir tak bisa dilawan. Kemarin petang, Jumat (17/6) pukul 18.30 waktu Tiongkok, Bu Nunung berpulang ke Rahmatullah. Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun.

Nur Kamsiyah yang mulai bergabung sejak tahun 1997 saat masih Jawa Pos Biro Jogja, meninggal setelah dua tahun terakhir berjuang keras menaklukkan ganasnya kanker yang telah menggerogoti hingga terakhir telah menyentuh ke paru-parunya itu. “‘Sudah menjalani operasi cryo atau pengasapan selama satu jam (dari pukul 3-4), lantas dipindahkan ke ICU,” jelas Joko Wahyudi melalui whatsapp hari Minggu(12/6).

Cryo adalah salah satu teknik pengobatan dengan cara membekukan sel-sel kanker dan sel di sekitarnya. Dengan cara itu diharapkan sel-sel itu tidak bisa hidup, karena jalan suplai makanan juga diblokir. “Karena tidak hidup, tumornya akan mengecil,” demikian penjelasan dari salah satu paramedis dari Guangzhou.

Menurut Joko Wahyudi, hari Rabu (15/6) dijadwalkan tindakan zero atau kemo. Namun dibatalkan, karena hasil laboratorium kurang mendukung untuk dilakukannya langkah itu. Dan, Kamis dinihari pukul 01.00, kondisi Nur Kamsiyah drop, bahkan harus dibantu mesin. “Saya minta tambah waktu di ICU. Perkembangannya baik, tapi masih di ICU,” kata Joko melalui WA dan mencoba menjaga agar teman-temannya di kantor tetap tenang.

Nur Kamsiyah menghadap Sang Khaliq meninggalkan putra Alvin yang duduk di bangku SMA, dan Fani yang tahun ini akan memasuki bangku SMP. Ia sebenarnya sudah cukup lama menderita kanker. Namun proses penyembuhan itu menjadi berlarut-larut karena warga Gondangan Penen, Sendangadi, Mlati, Sleman, ini begitu takut terhadap jarum suntik dan dokter. “Sulit banget untuk diajak berobat ke dokter,” ujar suaminya, beberapa waktu lalu.

Akhirnya, dalam beberapa bulan terakhir, Nur Kamsiyah bisa menaklukkan rasa takut itu. Dia sempat dirawat di beberapa rumah sakit di Sleman. Di saat semangat untuk menaklukkan penyakitnya semakin tinggi, kondisi fisiknya tak lagi sejalan. Selamat Jalan Mbak Nunung…(man)