Budi Agung/ Radar Jogja Online
PURWOREJO – Empat puluh enam orang dikabarkan menjadi korban banjir dan tanah longsor akibat hujan besar yang melanda Purworejo sejak sore hingga malam hari pada Sabtu (18/6). Lima orang akibat banjir bandang, sementara 41 orang karena tertimpa tanah longsor.

Dua lokasi menjadi titik paling parah dan memakan banyak korban yakni Dusun Caok Desa Karangrejo, Kecamatan Loano dan Desa Donorati, Kecamatan Purworejo dimana masing-masing lokasi longsor menimbun 16 orang dan 14 orang.

Dilaporkan, 9 orang telah ditemukan dalam kondisi tewas di Desa Karangrejo, sementara 7 yang lain masih dalam pencarian. Sementara di Donorati, 11 orang masih tertimbun tanah, lima orang berhasil ditemukan dimana dua orang masih hidup dan sisanya meninggal dunia.

Baca Juga : 16 Tertimbun, 9 Ditemukan Tewas

Kepala Pelaksana BPBD Purworejo, Boedi Hardjono dalam siaran persnya mengatakan lokasi lain yang memakan korban terjadi di Desa Pacekelan, Kecamatan Purworejo, dimana satu orang ditemukan meninggal akibat tertimpa longsoran di lokasi kejadian, sementara satu orang lain meninggal saat mendapat perawatan di RSUD dr Tjitrowardojo. Tiga orang ditemukan meninggal dan satu orang masih dalam proses pencarian di Desa Jelok Kecamatan Kaligesing.

“Untuk korban banjir di Desa Berjan Kecamatan Gebang ada satu orang hanyut, Kecamatan Bagelen 1 orang dan 2 orang di Mranti (Kecamatan Purworejo,red) dan Tangkisan (Kecamatan Kutoarjo) satu orang,” kata Boedi Hardjono, kemarin (19/6).

Dijelaskan Boedi, banyaknya korban di Karangrejo karena warga terjebak di jalan yang berada di bawah titik longsor dan tidak menyadari ada potensi longsor diatasnya. “Korban dari luar wilayah Karangrejo lebih banyak karena mereka terjebak longsor saat hendak melalui jalan itu,” imbuh Boedi.

Jebakan itu terjadi saat ada truk yang baru saja mengantar pekerja ke Rimun, Kecamatan Purworeio) hendak melaku ke arah Donorati. Truk berhenti karena sopir berusaha membersihkan batu yang menutup jalan. Di belakang truk terdapat beberapa motor serta warga yang hendak membantu proses pembersihan.

“Tanpa disangka-sangka tanah longsor terjadi dan mendorong mereka ke bawah jalan dan tertimbun,” katanya.

Sementara di Donorati, longsor terjadi di atas pemukiman yang padat penduduk. Kejadiannya sangat cepat dan warga tidak sempat menyelamatkan diri.

“Proses evakuasi tidak bisa dilakukan segera setelah kejadian karena faktor cuaca. Tapi malam hari, kita sudah bergerak untuk mengamankan lokasi yang tergenang dan terkena banjir,” imbuhnya.

Beberapa wilayah yang sempat tergenang antara lain di Kecamatan Purworejo meliputi Kelurahan Mranti, Kelurahan Cangkrep Kidul, Tegalsari , Kelurahan Purworejo, dan Kelurahan Baledono. “Di wilayah Gebang terjadi di Desa Seren dimana jembatannya terendam sampai 70 sentimeter dan di Kelurahan Lugosobo, sebuah mobil terjebak banjir,” katanya.

Kawasan lain yang kebanjiran adalah Desa Rowobayem dan Kemiri Kidul di Kecamatan Kemiri. Di Kecamatan Banyuurip, air menggenangi kampus akademi kebidanan di Kelurahan Borokulon. Sementara di Kecamatan Bayan, 50 warga Desa Samben terpaksa dievakuasi, demikian halnya 69 warga Desa Bayan.

“Untuk Purwodadi, luapan Sungai Bogowonto menggenangi Desa Jenar Wetan, Desa Ketangi dan Bragolan. Untuk Bagelen di Desa Piji dan Desa Bagelen,” imbuhnya.

Dua lain yakni Butuh dan Ngombol, air menyebabkan tanggul Wironatan jebol dan merendam Desa Singkilwetan dan Wingkoharjo. (udi/ong)