BANTUL – Hujan lebat yang mengguyur hampir seluruh wilayah DIJ pada Sabtu (18/6) malam memang tak berdampak banjir di permukiman penduduk wilayah Bantul. Sektor pertanianlah yang mengalami dampak buruk.

Alih-alih untung, petani malah buntung. Tak kurang dari 1,5 hektare lahan tanaman melon terendam air. Padahal, masa panen terhitung tinggal dua pekan ke depan. “Jelas gagal (panen). Rugi sekitar Rp 200 juta,” keluh
Badrun, petani melon di Seloharjo, Pundong kemarin (19/6).

Di bagian lain, hujan deras juga menyebabkan sebagian ruas Jalan Parangtritis, tepatnya di Dusun Paker, Mulyodadi, Bambanglipuro retak. Itu akibat tebing di sebelah timur bahu jalan longsor setelah terguyur curah hujan dengan intensitas tinggi. Panjang tebing longsor sekitar 25 meter. Kedalamannya sekitar lima meter.

Tebing yang menyangga Sungai Winongo Kecil tersebut diperkirakan longsor sekitar pukul 24.00. “Malam hari air sungai dengan badan jalan raya sejajar,” ujar Ismoyo, warga setempat.

Guna mencegah kecelakaan, aparat memasang garis polisi di sekitar lokasi kejadian. Tumpukan karung berisi pasir ditata di badan jalan sepanjang rekahan tanah. Menurut Ismoyo, air Sungai Winongo Kecil cukup mengkhawatirkan bila wilayah Bantul atau Kota Jogja dan Sleman diguyur hujan deras.

Air sungai kerap meluap.

“Mungkin karena banyak sampah di sungai,” ucapnya.

Staf Pusat Pengendalian Operasi (Pudalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Warsito mengatakan, wilayah terdampak hujan deras mayoritas berada di daerah selatan. Ada 15 titik banjir. Tersebar di kecamatan Sanden, Kretek, Bambanglipuro, Pandak, dan Pajangan.

Kendati demikian, genangan air ini tidak begitu memicu kerusakan sarana infrastruktur. Hanya menggenangi ruas jalan dan halaman rumah penduduk.

“Ketinggian air kisaran 20 hingga 80 sentimeter,” sebutnya.(zam/yog/ong)