KULONPROGO- Sementara itu, kondisi SDN Banasara, Kulonprogo masih banyak lumpur di hampir seluruh lokasi sekolahan. Para penghuni sekolahanmasih selalu merasa was-was setiap kali turun hujan dengan intensitas tinggi dan lama.

“Sekolah kami memang menjadi langganan banjir. Air selokan meluap dan masuk ruangan,” ungkap Kepala Sekolah SD Negeri Banasara, Sri Wiyanti disela kerja bakti bersih-bersih ruang kelas.

Ya, banjir yang melanda wilayah Lendah mengakibatkan genangan air setinggi lebih dari satu meter. Karenanya, saat air surut tumpukan lumpur di lantai sangat tebal. Penghuni sekolah cukup kerepotan membersihkan lumpur yang bercampur sampah rumah tangga. Murid dan guru menggunakan peralatan seadanya. Seperti, sapu ijuk atau lidi, dan kain pel. Upacara rutin tiap Senin pun diurungkan untuk keperluan bersih-bersih area sekolah. Seluruh siswa mulai kelas I hingga VI dilibatkan. Dibantu guru dan karyawan sekolah. Bahkan, para wali murid turut diminta bantuan tenaga untuk mengeruk lumpur.

“Tiap kelas membersihkan ruangan masing-masing. Supaya tidak mengandung kuman, lantai dipel dengan sabun,” ungkap Dian Fajri Saputra, salah seorang siswa.

Di Kulonprogo, banjir juga menggenangi beberapa gedung sekolah di Kecamatan Panjatan, Galur, dan Temon. Ketiga wilayah tersebut juga termasuk kawasan langganan banjir. Karena lokasinya berada di dataran rendah. (tom/yog/ong)