Budi Agung / Rara Jogja Online
LEGA: Sutarman (kanan), menemui para tamu di teras Masjid Desa Donorati kemarin (20/6). Dalam bencana longsor, Sutarman kehilangan dua anak yang sangat dicintai. Kini, Sutarman mengaku lega setelah jasad dua anaknya ditemukan dan dimakamkan.

Motor Tua Jadi Saksi Bisu Setiap Lebaran Bersama Sifa

Ditinggalkan dua anak tercinta sangat memukul perasaan pasangan Sutarman,44, dan Musinah, 42. Kini, warga RT 1, RW 1, Desa Donorati, Purworejo itu hanya bisa mendoakan keduanya agar bahagia di kehidupan yang lain.

Budi Agung, Purworejo
Nasi sudah menjadi bubur. Hanya kenangan manis yang tersisa dalam benak Sutarman dan Musinah akan dua orang anaknya yang menjadi korban tanah longsor, Sabtu (18/6).

Kala ditemui Radar Jogja kemarin (20/6), bekas luka benturan yang tertutup perban masih menghiasi pelipis kiri Sutarman. Penampilan buruh serabutan itu terlihat tenang dan hangat saat menerima tamu di teras masjid desa Donorati.

Tidak ada firasat apapun yang diterima Sutarman atau Musinah akan kepergian anak-anaknya. Sosok Sifa, anak pertamanya yang akan naik kelas 8 di SMP Muhammadiyah Purworejo amat membekas dalam ingatannya.

“Sifa itu anaknya sangat mengerti. Dia tahu kalau saya ini jarang punya uang. Apalagi uang banyak,” kata Sutarman yang mulai terlihat memerah matanya.

Saat kejadian, kedua anaknya tidak berada di rumah karena terjebak hujan dirumah adik kandung Sutarman, Karyono. Rumahnya saling berhadapan hanya terhalang kebun kecil.

“Saya sempat SMS-an dengan Sifa yang mengabarkan dia diminta buka puasa di rumah pamannya,” ungkap Sutarman.

Menghadapi Lebaran, Sifa sebenarnya sudah ditawari untuk dibelikan baju oleh budhe-nya. Tak lekang dalam ingatan Sutarman saat Sifa menolak halus tawaran kerabatnya itu. Jawabannya sangat menyentuh Sutarman.

“Sifa bilang kalau besok dengan bapak saja belinya. Sekarang bapak belum punya duit. Tapi kalau sudah punya biasanya akan membelikan,” imbuhnya.

Pengalaman setiap Lebaran sebelumnya, Sutarman memang selalu menemani Sifa memilih baju baru. Sepeda motor tua yang mengantar mereka menuju kios pakaian di pasar.

“Kalau dengan ibunya naik angkutan, kalau dengan saya cukup ngepit saja. Dan di pasar, Sifa juga tidak akan memilih baju yang mahal,” tambahnya.

Tentang Desti, anak keduanya yang akan naik kelas 5 SDN Donorati, Sutarman mengaku tidak ada yang menonjol karena masih relatif kecil. Meski begitu, Sutarman mengaku sayang kepada keduanya dan tidak pernah membedakan.

Satu hal yang membuat hatinya lega, kedua anaknya telah ditemukan kemarin. Tepat pukul 11.00, keduanya dimakamkan di pemakaman setempat. “Saya sudah tenang, kedua anak saya sudah ditemukan. Saya sendiri yang pertama kali menemukan mereka. Saya sayang kedua anak saya,”tutur Sutarman sedih. (yog/ong)