ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA
BANTUL – Simpatisan partai politik korban pembacokan orang tak dikenal, Anorraga Elang Gading Gazia, 16, dimakamkan Rabu (22/6). Ribuan pelayat menghadiri pemakaman di Dusun Jimpangan, Kasongan, Bantul.

Korban warga Perumahan Kasongan Permai Gang Gatotkaca, Bantul itu diketahui meninggal pada Rabu pagi sekitar pukul 04.00 di RSU PKU Muhammadiyah, Jogja. Sebelumnya korban terluka parah di bagian kepala setelah dibacok seseorang, Selasa petang (21/6) di Jalan DI Panjaitan, Jogja.

Duka mendalam menyelimuti keluarga almarhum yang masih tercatat sebagai siswa kelas 2 SMK Tamansiswa, Jetis, Jogja tersebut. Ibu almarhum, Emiyani tampak tak kuasa menahan kesedihan dan tak kuat mengantar jenazah putra bungsunya itu ke tempat peristirahatan terakhir.

Salah satu kerabat almarhum, Lidya Sri Margiasih mengatakan, semasa hidupnya almarhum dikenal anak yang baik dan tidak banyak tingkah. Menurutnya, korban tidak pernah berbuat onar apalagi melakukan tindakan negatif. “Baik dengan orang tua, rajin, dan ndak pernah neko-neko,” ujarnya.

Lidya mengatakan, meski pergaulannya luas, korban tidak pernah terlibat tawuran. Karena itu, Lidya yang didampingi suaminya, Yosua Kuntoro, menyatakan tidak seharusnya almarhum menjadi korban kekerasan sedemikian rupa. “Kami berharap polisi segera menangkap pelakunya dan diberikan hukuman yang setimpal,” katanya.

Almarhum merupakan putra bungsu dari dua bersaudara pasangan Hermawan dan Emiyani. Meninggalnya almarhum menjadi pukulan berat bagi keluarga di saat ayah almarhum sejak 3 tahun terakhir menderita stroke.

Ketua DPW PPP H Syukri Fadholi saat melayat ke rumah duka korban pembacokan mengungkapkan, pihaknya mendesak kepolisian segera menangkap pelakunya. “Pemuda belia telah terbunuh oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kami berbelasungkawa. Kami juga meminta polisi menuntaskan kasus Didin (korban pelemparan mercon di Sleman) dan Ano,” katanya saat di rumah duka.

Dengan tidak terungkapnya kasus Didin dan Ano, dia menyebut hal itu menunjukkan kelemahan polisi. Pihaknya menuntut kerja keras polisi menuntaskan kasus ini. Kalau polisi tidak sanggup, dia mengultimatum akan melakukan sesuatu hal yang akan diperhitungkan. “Kalau pembunuh Didin dan Ano tidak tertangkap, berarti hukum tidak ditegakkan adil,” ujarnya.

Di sisi lain, dia juga meminta kepada anak muda PPP untuk sabar. Dia mengimbau agar mereka tidak gegabah. “Jangan melakukan tindakan apapun juga,” pesannya.

Pihaknya menyerahkan kasus tersebut ke polisi demi hukum dan keadilan. “Kami sangat mengharapkan polisi melakukan tugas sesuai fungsi dan perannya. Akan ada tim investigasi dari kami yang mencari pelakunya,” ungkapnya.

Terpisah, Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengatakan, setiap aksi kekerasan harus ditindak tegas. Diusut siapa pelakunya dan apa motifnya. Tindak kekerasan, apalagi sampai ada korban jiwa, harus ditindak secara hukum.

“Kalau hanya diimbau tidak bisa, tindak saja!” tegas HB X saat diminta tanggapannya terkait kasus pembacokan di Mantrijeron, Jogja.

Raja Keraton Jogja itu menegaskan penyelesaiannya hanya dengan penegakan hukum. Sehingga bisa mengurangi tindak kekerasan yang tidak perlu. Sikap tegasnya itu juga terkait dengan beberapa aksi yang melibatkan anak-anak di bawah umur sebagai pelaku. “Anak-anak sekarang sudah tidak bisa dikendalikan. Harus tegas,” lanjutnya.

Sementara itu, kepolisian sudah mengantongi terduga pelaku pembacokan di Jalan DI Panjaitan, Mantrijeron, Jogja, Selasa (21/6) pukul 18.30. Kabag Ops Polresta Jogjakarta Kompol Sigit Haryadi mengatakan, polisi sudah mengantongi terduga pelaku pembacokan, tapi masih diselidiki, apakah ada hubungannya dengan ormas atau tidak.

Polisi juga menyiagakan ratusan personel di sekitar Parkir Ngabean. Ada sekitar tiga truk polisi di tempat tersebut. “Antisipasi kalau ada luapan dari salah satu kelompok, kami amankan semuanya,” ujarnya di Mapolresta Jogjakarta, Rabu (22/6).

Dari informasi yang dihimpun Radar Jogja, kronologis kejadian korban hendak pulang usai mengikuti acara buka bersama di Parkir Ngabean. Kemudian, korban mendekati titik kumpul di Minggiran, Mantrijeron, Jogja. Nah, saat di Mantrijeron itulah dia disabet celurit di bagian kepala.

Mengetahui salah satu temannya terluka, sebagian membawa korban ke rumah sakit. Sedangkan beberapa orang mengejar pelaku sampai ke daerah Cuwiri, Mantrijeron. Saat mencari pelaku pembacokan, beberapa anggota ormas melakukan tindakan perusakan di kos-kosan milik Teguh Murti Wardono di Jalan DI Panjaitan, Gang Cuwiri, Mantrijeron. Akibatnya, kos tersebut mengalami kerusakan berupa kaca ruangan pecah. Bahkan sekitar lima sepeda motor yang ada di kos-kosan tersebut juga rusak. Setelah melakukan perusakan, para anggota laskar pun pergi. (riz/pra/ong)