ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA
TABAH: Suami dan putra-putri Mbak Nunung saat mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya di pemakaman umum di Gondangan Penen, Sendangadi, Mlati, Sleman.

Baru Diketahui ketika Berobat di Guangzhou, Tiongkok

Ketika lahir kamu disambut dengan tawa, begitu juga saat akan pergi, hendaknya jangan ada tangisan. Di sini yang ada hanya kita berdua, aku dan kamu, yang sudah menjalani kehidupan bersama-sama dengan suka dan duka. Dan, jika Tuhan menghendaki kamu pulih, biarlah diangkat semua penyakitmu. Tapi jika Tuhan menghendaki kamu pergi, kita harus ikhlas.

BERCHMAN HEROE, Jogja
KALIMAT itu dibisikkan pelan oleh Joko Wahyudi ke telinga istrinya, Nur Kamsiyah, yang tergolek lemah di ranjang ruang kaca VIP Modern Cancer Hospital Guangzhou (MCHG), Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok, Jumat (17/6) lalu.

Saat itu sekitar pukul 18.00 waktu Tiongkok, Joko terus mengajak perempuan yang telah melahirkan dua buah hati, Alvin (SMA) dan Fani (tahun ini masuk SMP) itu bercanda. Sesekali Joko mencubit gemas dagu dan pipinya.

Sementara Nur Kamsiyah tak bisa merespons dengan kata-kata. Mulutnya, tersumbat selang yang tersambung dengan berbagai peralatan medis. Namun, melalui gerak matanya, Nur Kamsiyah seakan memberi jawaban. Sesekali dari sudut matanya mengalir bulir-bulir air mata, yang kemudian dibasuh penuh kasih oleh suaminya.

“Umi (begitu Joko biasa memanggil istrinya) saat itu menyadari, dia akan segera berpulang ke Rahmatullah. Oksigen dalam darahnya tinggal 30 persen, dan kondisinya terus memburuk,” kenang Joko dengan mata berkaca-kaca.

Baca : Selamat Jalan Mbak Nunung…

Berbagai kenangan masa pacaran dan kebersamaan mereka itu terus diceritakan oleh Joko, hingga detik terakhir istrinya menghembuskan napas dengan tenang, pukul 18.30 waktu Tiongkok. Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun.

Nur Kamsiyah, adalah karyawan Jawa Pos Radar Jogja yang bergabung sejak tahun 1997 (kala itu masih Jawa Pos Biro Jogja). Perempuan kelahiran Nganjuk, 25 Maret 1971 yang akrab disapa Mbak Nunung dan sebagian lainnya memanggilnya Umi itu merupakan salah satu perempuan yang berjuang keras menaklukkan ganasnya penyakit kanker.

“Sebenarnya setelah menjalani Cryo (teknik pembekuan) di MCHG, Umi merasa segar dan ringan. Selanjutnya, Umi harus menjalani Zero atau chemotherapy. Namun, sebelum menjalani Zero, Umi harus tes lab. Dari tes lab itu baru diketahui, bahwa sel kanker yang lebih ganas justru menyerang paru-parunya. Sel itu juga menyebar ke lever, usus, dan tulang pundak kanan,” jelas Joko.

Saat itu telah terjadi peradangan hebat di paru-paru Nur Kamsiyah. Demikian juga kondisi lever (hati) yang sudah cukup parah. Semua itu baru diketahui setelah dilakukan Cryo, yaitu penangan awal terhadap kanker permanen di payudara.

Cryo adalah salah satu teknik pengobatan dengan cara membekukan sel-sel kanker dan sel di sekitarnya. Dengan cara tersebut diharapkan sel-sel kanker itu tidak bisa hidup, karena jalan suplai makanan juga diblokir, sehingga tumornya mengecil, lantas diambil tindakan lanjut.

Namun yang mengejutkan, ternyata sel kanker tidak hanya ada di payudara, tapi juga di paru-paru. Jenisnya sangat ganas, adenocarcinoma. Tanda-tanda penyebaran itu sebenarnya sudah terindikasi dari masuknya cairan ke paru-parunya.

“Saat di Surabaya, Prof Liu dari MCHG yang menangani Umi dilapori hal itu, dia langsung memerintahkan Umi harus segera dibawa ke Guangzhou. Harus segera berangkat!!” kenang Joko.

Untuk diketahui, kanker paru-paru umumnya memang jenis adenocarcinoma. Kanker paru-paru agak sulit dideteksi. Sebab, paru-paru termasuk organ yang besar. Penderita sering tidak menyadari, bahwa paru-parunya sedang terkena kanker, sebab tanda-tandanya hanya batuk -batuk kecil atau mudah lelah. Setelah stadiumnya tinggi, barulah penderita mengalami sesak napas.

Kanker paru-paru yang diderita Nur Kamsiyah baru terdeteksi saat berada di MCHG, yaitu rumah sakit yang telah mendapat akreditasi medis tertinggi di dunia dari Joint Commission International (JCI-2015).

Di rumah sakit ini pemeriksaan bukan hanya pada kanker primernya, tapi juga pada seluruh jalur penyebarannya. Dari hasil laboratium itu baru diketahui bahwa kanker itu sudah menyebar. hampir ke seluruh penjuru tubuh.

“Bahkan ada yang seharusnya batas idealnya di angka 4, tapi dari hasil lab diketahui sudah mencapai angka 18. Artinya sudah berlipat kali dari batas normal,” ujar Joko.

Selama di MCHG, Nur Kamsiyah dilayani sangat istimewa. Penanganannya sangat cepat, karena di tiap lantai selalu ada dokter dan perawat. Begitu juga saat mengetahui penyebaran sel kanker sudah kemana-mana, tiga orang profesor langsung berembuk menanganinya.

Pria yang akrab disapa Pak Ndut ini menyadari terlambat membawa istrinya berobat ke Modern Cancer Hospital Guangzhou. “Ketakutan Umi terhadap jarum suntik dan dokter langsung hilang saat ada di sana (MCHG). Bahkan Umi mengaku sama sekali tidak menyadari ketika di lengannya sudah tertanam jarum suntik, sama sekali enggak sakit katanya. Umi juga bertanya, kenapa enggak dari dulu?” ujar Joko menirukan.

Tindakan Nur Kamsiyah menunda-nunda pengobatan secara medis, menurut Joko Wahyudi, tak lepas dari ketakutan almarhumah pada jarum suntik, sosok dokter, dan kesulitannya menelan obat.

“Umi baru mulai bersemangat menempuh pengobatan secara medis setelah merasa kesulitan ketika harus menelan delapan butir kapsul herbal sekali minum. Itu dilakukan sehari tiga kali. Sampai Umi tidak sanggup lagi untuk menelan kapsul itu,” katanya.

Namun, kini semua tinggal dalam kenangan, sebuah keberanian menghadapi jarum suntik itu muncul terlambat. Di kala semangat untuk menaklukkan penyakit begitu tinggi, namun kondisi fisik tak lagi sejalan. Meski, sepenuhnya semua yang terjadi sudah digariskan oleh Sang Khaliq.

Kemarin (23/6), jenazah Nur Kamsiyah telah tiba di antara keluarga dan kerabatnya, untuk dikebumikan di pemakaman umum tak jauh dari rumah tinggalnya, Gondangan Penen, Sendangadi, Mlati, Sleman. Hujan yang mengguyur Jogja dan sekitarnya semalaman, seakan satu upaya membersihkan jalan yang akan dilalui mobil jenazah dari Bandara Adisutjipto menuju rumah duka. (ila/bersambung)