JOGJA – Kekerasan yang terus terjadi di DIJ, membuat keprihatinan semua kalangan. Hal itu pula yang mendasari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) DIJ untuk menggelar dialog rutin.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengatakan masalah kekerasan yang terus berulang menjadi perhatian serius. Terlebih sebagian pelakunya masih remaja. Karena itulah pencegahan harus dimulai dari tingkat keluarga. “Penegakan hukum tetap jadi faktor utama, sambil melakukan dialog keliling,” ujarnya usai pertemuan Forkopinda di Kepatihan kemarin (23/6).

Rangkaian dialog itu rencananya akan dimulai 10 Juli mendatang dan akan dilakukan setiap empat bulan sekali. Seluruh perangkat daerah dari tingkat kelurahan akan diundang untuk mencapai kesamaan konsep mencegah terulangnya kekerasan di kalangan remaja. “Makanya nanti lurah atau babinsa dan Koramil bisa ikut membina. RT juga difungsikan lagi,” tuturnya.

Kapolda DIJ Brigjen Prasta Wahyu Hidayat juga mengungkapkan fakta jika banyak pelaku kekerasan di DIJ masih tergolong usia remaja. Masih di bawah 17 tahun. Hal ini membuat upaya pencegahan tak bisa dilakukan aparat penegak hukum saja. Seluruh warga masyarakat terutama yang memiliki anak usia remaja mestinya bisa bersama-sama mengawasi perilaku remaja. “Tapi untuk pengawasan di sekolah dan rumah guru dan orangtua bisa ikut membantu,” katanya.

Prasta menambahkan meskipun pelaku kekerasan masih di bawah umur, pihaknya tetap akan memrosesnya sesuai hukum yang ada. Penegakan hukum menurut di tetap harus dilakukan untuk memberikan efek jera. “Operasi rutin sudah kita gelar, tapi tetap butuh partisipasi masyarakat,” tuturnya. (pra/din/ong)