SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
NEKAT: Tembok Lapas Cebongan setinggi 7 hingga 8 meter yang dilompati lima napi menggunakan sarung dan celana yang saling dikaitkan.
JOGJA – Lima orang narapidana (napi) di Lapas Kelas IIB Sleman atau Lapas Cebongan diketahui kabur setelah menjebol plafon, Minggu (26/6). Mereka kabur dengan menggunakan kain sarung dan celana yang dikaitkan untuk menuruni pagar. Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 11.50 menjelang Salat Duhur.

Dari informasi yang dihimpun Radar Jogja, kelima orang napi tersebut adalah Aji Widodo, Ahmad Abdul Ghofur, Ari Priyanto, Nova Candra Hermawan, dan Rifki Nanda Fitriyanto. Lima orang yang kabur itu adalah dua orang tahanan dan tiga napi. Beberapa di antaranya tersangkut kasus pencurian. Ada salah satunya yang dihukum karena kasus penganiayaan dengan hukuman 7 tahun 8 bulan.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DIJ Pramono membenarkan kejadian tersebut. Dia mendatangi Lapas Cebongan, Minggu malam sekitar pukul 20.00. Kedatangannya untuk melihat langsung kondisi Lapas pascakebobolan lima orang yang ditahan di tempat itu.

Dia menjelaskan, kelima tahanan tersebut kabur setelah menjebol plafon dan naik pagar di sela-sela antara Blok Cempaka (C4) dengan kamar mandi. “Ada lima orang. Satu orang karena kasus 170 (penyeroyokan dan perusakan), satu orang kasus 365 (perampasan), dan tiga orang karena pencurian atau 363,” katanya kepada Radar Jogja kemarin.

Kejadian kaburnya napi tersebut diketahui setelah serah terima dari regu jaga sif pagi ke sif siang. Dari sebelumnya ada 70 tahanan, setelah waktu Duhur dan pergantian sif, setelah dihitung jumlahnya berkurang lima orang.

“Kaburnya menjebol plafon, kemudian membuka genting kemudian turun di brandgang (jalan kecil dan saluran air di antara petak bangunan) dan loncat dengan sarung. Ada lima sarung milik mereka yang kami temukan,” katanya kepada wartawan di depan Lapas.

Dari pantauan di lapangan, tembok Lapas diperkirakan setinggi 7 hingga 8 meter. Di atas tembok terdapat rangkaian kawat berduri sekitar setengah meter. Kain sarung kemungkinan digunakan untuk mengindari kawat berduri tersebut.

Saat kejadian, menurut Pramono, penjaga berada di dalam blok. Pramono mengatakan, pihaknya masih akan melakukan penyelidikan. Apabila nantinya terbukti ada kelalaian oleh petugas Lapas maka akan diberikan sanksi.

“Pengawasan akan kami cek. Kami turunkan tim untuk memeriksa besok (hari ini). Kalau ada kelalaian, petugas akan kami sanksi,” katanya.

Mengenai sanksi kepada kelima napi yang melarikan diri, Pramono mengatakan, mereka akan kehilangan haknya. Salah satunya pengurangan masa tahanan atau remisi. Dia juga mengatakan kamera pengawas atau CCTV saat kejadian berfungi dengan baik. Ditanyakan mengenai indikasi kaburnya kelima orang tersebut, Pramono menyebut, tidak menutup kemungkinan aksi itu sudah lama direncanakan.

“Barangkali sudah direncanakan. Sampai sejauh mana petugas mengawasi CCTV itu apakah sesuai SOP (standard operation procedure) atau satu kelalaian akan kami cek,” katanya.

Pramono mengatakan, saat ini pihaknya telah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian untuk melakukan pencarian terhadap kelimanya. Hal itu dibenarkan Kapolres Sleman AKBP Yulianto. “Diminta tidak diminta, kami bantu melakukan pengejaran,” kata Yulianto. (riz/ila/ong