Harnum Kurniawati/Radar Jogja
SAVE PAHINGAN: Para seniman-budayawan dan simpatisan menggelar acara kumpul-kumpul di Alun-Alun Kota Magelang untuk menolak rencana relokasi Pahingan
MAGELANG – Relokasi Pasar Minggu Pahing (Pahingan) yang akan dilangsungkan setelah Lebaran ke Lapangan Rindam IV/Diponegoro, terus mengalami penolakan. Hal itu dilakukan oleh para budayawan dan simpatisan yang tergabung dalam simpatisan save pahingan.

Salah satu yang dilakukan adalah dengan cara kumpul-kumpul di Alun-Alun Kota Magelang, sambil menunggu waktu berbuka puasa. Dengan tajuk berbagi cerita pengalaman masyarakat pemuda dan pemudi Pahingan.

“Ini adalah bentuk kepedulian kami, dan dari dulu memang ada pemuda dan pemudi Pahingan. Jangan dikira kita cuma berkata bohong karena dulu ada pemuda Pahingan yang tergabung dari Kota Magelang, Wonosobo, Temanggung, Salaman dan sekitarnya,” ujar mantan Ketua Pemuda Pahingan tahun 1983 Pakdhe Woto, usai kegiatan kemarin (26/6).

Salah satu simpatisan Pahingan Luky Henry menambahkan, dulu mereka dating ke Masjid Kauman dulu untuk mengaji. Setelah mengaji, baru jalan-jalan menuju Pahingan. Dan, setelah itu baru jalan ke Pasar Rejowinangun.

“Sebenarnya Pahingan ini bukan salah satu alasan kenapa Pasar Rejowinangun sepi. Intinya kita teman-teman tetap akan memperjuangkan sampai relokasi tidak terjadi,” tegas pria yang akrab disapa Heng ini.

Salah satu yang mengikuti kegiatan Nobon Aditya Wibowo, 22, mengatakan Pahingan harus tetap dilestarikan. Karena Pahingan adalah budaya bangsa kita. Bukan hanya milik Kota Magelang saja, namun budaya Indonesia.

“Saya terkesan dengan teman-teman yang mau berjuang melestarikan ikonik Kota Magelang ini. Semoga Pahingan tetap bisa dilestarikan,” kata Nobon yang jauh-jauh datang dari Purwokerto bersama temannya. (nia/laz/ong)