SLEMAN- Dunia kedokteran tak pernah bisa lepas dari kemajuan teknologi. Terutama untuk kepentingan rekamedis. Sukma Puspitorini, masiswi Informatika Medis, Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia mencoba mengembangkan aplikasi Severity Level berbasis Indonesian Case Based Groups (INA CBG’s).

Aplikasi tersebut untuk mengukur tingkat keparahan penyakit yang diderita pasien, dikaitkan dengan estimasi biaya perawatan di rumah sakit. Khususnya, biaya yang harus dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Tingkat keparahan yang dimaksud adalah kondisi pasien berdasarkan input data berupa umur, diagnosis utama, diagnosis sekundar 1, dan sekunder 2. Output dari aplikasi ini berupa prediksi tingkat keparahan (severity level) dan gambaran tarif klaim kasus penyakit pasien. “Dalam penelitian ini baru tiga penyakit yang menjadi sampel. Yakni, hipertensi, stroke, dan diabetes mellitus tipe 2,” jelas Sukma kemarin (27/6).

Aplikasi tersebut diyakini sangat bermanfaat untuk petugas rekam medis bagian klaim. Juga bagi petugas administrasi ruangan di bangsal rawat inap. Untuk memberikan informasi kepada keluarga pasien yang sedang dirawat. “Jadi, total biaya perawatan bisa diprediksi di tengah proses pengobatan. Dengan begitu, pasien bisa tahu item apa saja yang ditanggung BPJS dan mana yang harus dibayar sendiri,” papar perempuan berhijab itu.

Menurut Sukma, pasien dengan severity level berat otomatis menghabiskan resource lebih banyak. Dibandingkan pasien severity ringan.

Meski belum diterapkan secara aktif di rumah sakit, Sukma optimistis aplikasi dengan tingkat validitas mencapai 97,2 persen itu sangat berguna. Sukma meyakini, hasil aplikasi akan mampu member gambaran pada masyarakat yang sering mengeluhkan tingginya biaya fasilitas kesehatan. Khususnya bagi pasien rawat inap. Sebab, jaminan kesehatan nasional tak mengkaver seluruh pembiayaan.

Karena itu, informasi dana tambahan yang harus dikeluarkan keluarga pasien menjadi hal penting untuk diketahui. Sebelum proses rawat inap selesai.

Dalam penelitiannya, Sukma mengambil sampal data di dua rumah sakit. Yakni, RSUD Tipe B Raden Mataher, Jambi dan RSUD TIpe C dr R.Soeprapto, Cepu.(yog/ong)