JOGJA – Hari pertama Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMP kemarin (27/6) hampir sama dengan jenjang SMA. Siswa pemilik nilai tinggi masih belum banyak yang memasukkan nilai. Prediksi bakal terjadi bom-boman nilai saat hari terakhir pun kian menguat.

Wali Kota Haryadi Suyuti mengajak semua orangtua dan wali siswa untuk segera menyerahkan formulir pendaftaran putranya. Terlebih bagi yang memiliki nilai tinggi. Dengan kepemilikan nilai rata-rata 280, peluang diterima di sekolah pilihan pertama sangat besar.

“Jangan menunda-nunda. Selama nilainya bagus, pasti aman,” ujar HS, sapaan akrabnya, kemarin di sela pengecekkan dan mendaftarkan putrinya Kartika Zahra di SMPN 5.

HS bersama dengan sang istri Tri Kirana Muslidatun mengaku, nilai putrinya 293,5. Dengan angka tersebut, optimistis bisa diterima di pilihan pertama, SMPN 5 Kota Jogja. “Saya sebelumnya sudah melihat sebaran nilai. Ternyata, nilai anak saya bisa bersaing,” kelakar HS.

Contoh HS memasukkan formulir pendaftaran di hari pertama ini, lanjutnya, agar tak membuat pemilik nilai di bawah rata-rata terlempar. Apalagi, saat hari terakhir nanti, diprediksikan persaingan sangat ketat. “Jangan memasukkan nilai hari terakhir. Penuhi kuota daya tampung secepatnya,” pinta HS.

Dia juga menegaskan, untuk proses PPDB seluruh sekolah negeri di Kota Jogja berlangsung secara transparan. Artinya, dia memiliki anak yang mau masuk di jenjang SMP, hal tersebut tetap harus mengikuti prosedur normal. “Tetap tidak bisa. Dumeh anak wali kota diterima, tidak bisa,” tandasnya.

Kota Jogja tahun ini masih menggunakan sistem Real Time Online (RTO). Itu merupakan satu-satunya mekanisme dalam proses PPDB di jenjang SMP maupun SMA/SMK negeri di Kota Jogja. Dengan sistem ini, semuanya berlangsung transparan. Setiap pergerakan nilai selalu bisa terpantau.

“Saya jamin, proses ini sangat fair dan transparan. Diterima di salah satu sekolah karena memang memenuhi persyaratan. Nilainya bisa bersaing,” katanya.

Ketua PPDB Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja Samiyo menuturkan, sampai saat ini nilai tertinggi masih menjadi primadona di sistem RTO ini. Nilai tinggi bisa memilih sekolah mana pun. “Semua pendaftar memiliki porsi yang sama tanpa memandang orangtua atau latar belakang keluarganya,” katanya.

Dia menambahkan, melalui sistem RTO juga dapat dipantau secara transparan perkembangan nilainya. Kemudian jika sudah melakukan verifikasi di salah satu sekolah, secara otomatis akan turut bersaing di pilihan kedua dan ketiga manakala sudah tidak lolos di pilihan pertama.

“Ketika sudah memasukkan formulir otomatis sudah masuk. Jika tidak diterima di pilihan pertama masih ada pilihan kedua dan ketiga. Jadi, pertimbangkan semua pilihan dengan baik,” sarannya.

Pertimbangan itu, lanjut dia, bukan berdasarkan favorit dan tidak favorit. Tapi, nilai yang telah masuk dan daya tampung. Jadi, jika terlempar pada pilihan kedua dan ketiga, tetap bisa bersaing untuk diterima. (eri/ila/ong)