KOORDINASI – Suasana rapat koordinasi lintas sektoral dalam rangka pengamanan Hari Raya Idul Fitri 1437 H di ruang rapat satu Pemkab Gunungkidul kemarin (27/6)
GUNUNGKIDUL – Momen Lebaran selalu dimanfaatkan oknum tak bertanggungjawab untuk berbuat kriminal. Mencopet atau jambret. Aksi itu biasa terjadi di pusat-pusat keramaian. Satu kasus lagi yang juga marak adalah pencurian rumah atau kantor kosong. Nah, untuk mencegah tindak kriminalitas, Kapolres Gunungkidul AKBP Ngurah Trihadi punya kiat khusus.

Dalam rapat koordinasi persiapan menyambut Lebaran kemarin (27/6) kapolres berbagi pengalaman mencegah pencurian. Ngurah mengimbau instansi pemerintahan menitipkan sarana dan aset penting ke Polsek di masing-masing wilayah. “Berdasarkan pengalaman tahun lalu banyak kasus pencurian saat libur panjang Lebaran. Pelaku memanfaatkan kelengahan masyarakat,” ujar mantan Kapolres Belitung Timur itu.

Ngurah meyakinkan bahwa barang-barang milik instansi pemerintahan atau masyarakat lebih aman jika disimpan sementara di pos polisi. “Kami yakin dan jamin aman,” lanjut perwira menengah dengan dua melati di pundak.

Sementara guna mengantisipasi tindak kriminalitas di pusat-pusat keramaian, Ngurah menyiapkan enam pos pengamanan serta beberapa pos laju. Aparat yang diterjunkan untuk pengamanan selama Lebaran sedikitnya 757 personel. Terdiri atas anggota TNI, polisi, Dishubkominfo, pramuka, dan instansi pemerintahan lain.

“Khusus personel kepolisian kami kerahkan 450 orang. Pasukan bersiaga 24 jam saling bergantian. Sifatnya situasional,” lanjut Ngurah.

Bupati Gunungkidul Badingah mengatakan, jumlah pemudik tahun ini diprediksi mencapai 150 ribu orang. Meningkat sebesar 11 persen dibanding tahun lalu. Banyaknya jumlah pemudik menjadi perhatian serius Badingah. Bukan tidak mungkin pemudik dari luar kota justru membawa pengaruh negatif bagi warga Bumi Handayani. “Harus diwaspadai bersama. Terutama kejahatan narkoba. Perlu disikapi sejak sekarang,” pintanya.

Badingah juga menyoroti potensi arus urbanisasi. Ya, Lebaran memang seakan menjadi pintu masuk bagi warga pedesaan yang ingin berkarir atau sekadar mengubah nasib di ibu kota. Badingah tak melarang warganya hijrah ke Jakarta. Asalkan ada kejelasan rencana kerja di lokasi yang layak. “Jangan sampai pemudik membawa sanak saudara merantau, namun minim bekal,” ingatnya.(gun/yog/ong)