JOGJA-Jelang Lebaran, masih ada saja pedagang nakal yang ingin meraup untung selangit. Salah satunya pedagang daging sapi. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja menemukan empat pedagang yang menjual daging sapi gelonggongan.

Mereka itu ternyata bukan pemain baru. Berdasarkan catatan Disperindagkoptan Kota Jogja, ada tiga penjual yang pernah disidangkan tindak pidana ringan (Tipiring) karena melanggar Peraturan Daerah (Perda) No 21/ 2009 tentang Pemotongan Hewan dan Penanganan Daging. “Satu lagi penjual di Pasar Legi merupakan orang baru,” ujar Kepala Seksi Pengawasan Mutu Komoditas dan Kesehatan Hewan Disperindagkoptan Kota Jogja Endang Finiarti, kemarin (29/6).

Ditemukannya empat pedagang tersebut merupakan hasil operasi gabungan dengan Dinas Ketertiban (Dintib) Kota Jogja, dan kepolisian selama sepekan terakhir. Mereka juga tersebar di empat pasar yang berbeda. “Kami menemukan mereka di Pasar Kranggan, Pasar Sentul, Pasar Legi, dan Pasar Kotagede,” tandasnya.

Dengan penyebaran yang tak hanya di satu pasar ini, pihaknya menjadi penasaran dengan keberadaan daging gelonggongan di pasar tradisional lain. Apalagi, kbutuhan daging sapi seperti saat ini mengalami kenaikan. “Mungkin itu yang membuat mereka beroperasi lagi,” sesalnya.

Ia memastikan, tak hanya pengakuan dari pedagang. Petugas juga telah mengantongi bukti daging yang dijual serta melakukan pengecekkan dengan sederhana menggunakan kertas saring. “Jika benar daging gelonggongan akan mengeluarkan banyak air sehingga kertas saring menjadi basah. Daging berkualitas baik tidak akan mengeluarkan banyak air,” katanya.

Daging yang menjadi barang bukti ini memang tak banyak. Di Pasar Legi, Kotagede, dan Kranggan, penjual hanya menyediakan daging gelonggongan ini tiga kilogram sampai lima kilogram. Sedangkan di Pasar Sentul 20 kilogram. “Semuanya diproses pelanggaran tipiring. Pekan ini, dijadwalkan menjalani sidang,” jelasnya.

Endang menyebut, biasanya pedagang yang tertangkap memang hanya menjual daging gelonggongan dan tidak menjual daging dengan kualitas baik. Mereka mengaku mendapatkan daging tersebut dari Bantul. “Tapi sebenarnya berasal dari Boyolali,” katanya.

Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkoptan Kota Jogja Sri Harnani menambahkan, pembeli juga harus mengenali perbedaan daging glonggongan dan daging sapi. Kemudian, jika menemukan untuk segera melaporkan ke Disperindagkoptan atau di Dintib dan kepolisian. “Jika tidak cermat, konsumen yang dirugikan. Karena daging gelonggongan jelas rusak, kedua berbahaya dikonsumsi,” jelasnya.

Ia pun mengajak kepada konsumen menjadi cerdas. Yakni bisa mengenai daging gelonggongan dan daging sapi benar. “Sangat mudah, dilihat dari permukaan dagingnya selalu basah sampai keserat-seratnya. Daging sapi normal hanya tampak lembap tapi tidak basah,” tandasnya.

Kebiasaan lain dari penjual daging sapi gelonggongan, tak berani menggantung daging. “Karena airnya akan terus menetes sampai daging menyusut normal. Daging sapi glonggongan berwarna merah pucat. Sedangkan daging sapi normal berwarna merah tua,” jelasnya. (eri/din/ong)