MUNGKID – Penambangan pasir di sungai yang berhulu di lereng Merapi kembali menelan korban jiwa. Kali ini menimpa tiga penambang pasir manual. Satu orang tewas, sementara dua lainnya mengalami luka.

Mereka terluka setelah sempat tertimbun material longsoran. Peristiwa ini terjadi di lokasi penambangan manual di Sung-ai Pabelan, masuk Dusun No-giri, Kapuhan, Kecamatan Sa-wangan, perbatasan dengan wilayah Kecamatan Dukun.

“Tiga penambang terkena material tebing yang longsor itu. Mereka tidak sempat meny-elamatkan diri ketika tebing di atasnya longsor,” ujar salah seo-rang relawan sekitar Merapi Huda Khairun Nahar kepada wartawan kemarin (28/6).

Peristiwa ini berlangsung Senin petang (27/6) pukul 18.30 WIB. Ketiga penambang saat itu sedang menaikkan material pasir ke da-lam bak truk.

Namun tiba-tiba tebing sungai longsor dan menge-nai ketiga penambang itu.Mengetahui tebing longsor, war-ga dan penambang yang lain se-gera melakukan pertolongan dengan evakuasi.

Ketiga korban kemudian dilarikan ke RSU Muntilan untuk penanganan medis lebuih lanjut. Ketiga penambang yang ter-kena longsoran itu adalah Wi-narno, 24. Sementara dua lain-nya adalah Sedi, 35, dan Suprih, 40. Ketiga orang ini merupakan warga Dusun/Desa Sengi, Ke-camatan Dukun.

Korban Suprih yang menga-lami luka cukup berat, kemarin sore (28/6) dikabarkan mening-gal dunia. Jenazahnya langsung dimakamkan sore itu juga.

“Long-sor diduga karena tebing sung-ai ditambang, terus materialnya mudah longsor,” jelasnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggu-langan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Supra-nowo mengimbau warga untuk selalu waspada. Kegiatan penambangan jangan sampai merusak lingkungan.

“Jangan sampai merugikan pihak lain yang dapat mengancam keselamatan jiwa,” jelasnya.

Men-urutnya, perkiraan cuaca sepan-jang tidak turun hujan yang terus menerus banjir lahar tetap aman. Masyarakat sekitar sungai ber-harap tetap aman dari bahaya banjir lahar hujan. “Warga sudah paham dengan situasi hujan yang tidak tentu. Cuaca seperti ini menuju musim kemarau,” kata-nya. (ady/laz/ong)