SLEMAN – Masyarakat harus ekstra hati-hati belanja sembako kebutuhan Lebaran. Bagaimana tidak, peredaran makanan yang mengandung bahan berbahaya masih marak. Terutama di pasar-pasar tradisional. Di Pasar Cebongan, Mlati dan Kebonagung, Minggir, misalnya. Makanan mengandung boraks dan rhoamin B ditemukan petugas tim razia kebutuhan pokok Pemkab Sleman kemarin (29/6).

Dari 17 sampel makanan yang diambil di Pasar Cebongan, satu diantaranya positif mengandung boraks. Yakni, mi Jawa. Sementara di Pasar Kebonagung, tiga jenis makanan dari 15 sampel yang diperiksa mengandung rhodamin B. Antara lain, rengginang, lanting, dan kerupuk pasir.

Bupati Sleman Sri Purnomo menyayangkan minimnya kesadaran produsen makanan yang menjual dagangan tidak sehat. Mendapati banyak makanan mengandung zat berbahaya, Sri Purnomo menginstruksikan petugas razia untuk menyita dan segera memusnahkan produk konsumsi tersebut. Langkah itu guna menghindarkan dampak buruk bagi konsumen. Sebab, jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama zat bahaya itu dapat menimbulkan berbagai penyakit pada organ ginjal dan hati.

“Jangan sampai makanan ini menyebar luas. Apalagi ini menjelang Lebaran, biasanya konsumi di masyarakat meningkat,” ucap bupati disela inspeksi mendadak di Pasar Cebongan.

Sri meyakini bahwa makanan yang mengandung zat berbahaya bukan berasal dari Sleman. Tapi didatangkan dari luar daerah.

Karena itu, dia meminta Disperindagkop memperketat peredaran makanan di wilayah Sleman.

Termasuk melibatkan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ.

Sementara itu, Kepala BBPOM DIJ I Gusti Ayu Adhi Aryapatni menjelaskan, penemuan makanan yang mengandung zat berbahaya tidak hanya terjadi di Sleman. Di pasar besar seperti Beringharjo juga ditemukan. Rhodhamin B paling mendominasi.

“Bahan kimia ini digunakan sebagai pewarna agar makanan terlihat menarik,” jelasnya.

Dampak mengonsumsi zat tersebut memang tak terasa secara langsung. Tapi, setidaknya akan terasa sekitar 15-20 tahun kemudian.

“Bisa menimbulkan kanker atau kerusakan hati dan gagal ginjal,” paparnya.

Sebagai bentuk penanggulangan dan antisipasi, jelasnya, BPOM DIJ telah melakukan bimbingan teknis (bimtek) bagi para pedagang pasar.Mereka diberi keterampilan sederhana untuk mengecek kandungan bahan berbahaya pada makanan. Pedagang lantas diminta membuat laporan secaraberkala kepada BBPOM.(bhn/yog/ong)