BANTUL – Bupati Bantul Suharsono angkat bicara menyikapi kabar dugaan makelar jabatan di lingkungan pemkab. Seperti halnya Abdul Halim Muslih, wakilnya, Suharsono juga berang namanya dicatut sebagai “password” aksi sang makelar. “Demi Allah saya tidak melakukan itu,” tegasnya usai buka puasa bersama di kompleks Parasamya kemarin (29/6).

Dalam ingatan Suharsono, namanya sudah dua kali dicatut. Dia menyadari, usai pilkada 2016 banyak pihak memanfaatkan namanya. Nama Suharsono pernah dipakai sebagai label oleh oknum untuk mendapatkan proyek di satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Kala itu, Suharsono menegaskan bahwa dirinya tak ada kaitannya dengan kasus tersebut.

“Saya justru tidak pernah ngurusi masalah proyek,” tandasnya.

Terkait dugaan makelar jabatan, pensiunan perwira menengah Polri ini bertekat membongkar kedok dan membuktikannya. Dia tidak mentoleransi siapa pun yang bermain dalam proses mutasi dan kenaikan pangkat pejabat. “Akan saya buktikan yang sebenarnya,” ujar Suharsono.

Orang nomor satu di Bumi Projotamansari itu juga berjanji bakal menjalankan proses mutasi jabatan secara transparan. Pun demikian terkait penempatan dan kenaikan pangkat serta jabatan pegawai negeri sipil (PNS). Caranya dengan menerapkan uji kompetensi. Selain tes wawancara, setiap PNS juga bakal mengikuti tes psikologi. Untuk merealisasikan uji kompetensi ini, Suharsono bakal menggandeng perguruan tinggi sebagai pihak independen.

“Insyaallah setelah Lebaran akan saya mulai,” ungkapnya.

Dengan model seleksi ini, Suharsono optimistis penempatan PNS bakal sesuai kebutuhan SKPD. Juga sekaligus menghilangkan faktor like and dislike.
Atas dasar itu pula pria kelahiran Beji, Sumberagung, Jetis ini meminta pejabat SKPD giat bekerja. Mengingat, tidak sedikit pejabat di lingkungan pemkab saat ini yang ogah-ogahan bekerja lantaran berasumsi bakal dimutasi. Sejumlah pejabat ini ditengarai sebagai pendukung bupati lama. “Yang lalu biar berlalu. Semua saya perlakukan sama,” tuturnya.(zam/yog/ong)