JADI seorang polisi salah satu cita-ita favorit di kalangan anak-anak. Tapi rupanya, menjadi sosok pengayom masyarakat ini tidak menarik perhatian Tito, meski sang ayah adalah seorang polisi.

“Dulu pernah didaftarkan ibu, tapi memang pada dasarnya aku ngga suka. Maka jalannya ngga ke sana,” ungkap anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

Tak mengikuti jejak sang ayah, tapi dukungan keluarga sebagai pemain bola seratus persen. Karena Tito me-nunjukan keseriusannya berkarir di sepak bola, dan sudah ditunjukkan dengan prestasi.

Di sisi lain, wak-tu yang dicu-rahkan untuk berlatih dan bertanding masih tersisa untuk meram-pungkan kuliah-nya di UNY. Bahkan, dirinya menar-getkan untuk lulus tahun ini.

“Manajemen juga tidak mengekang, keluarga dukung karena mereka me-lihat aku serius. Aku harus meram-pungkan kuliah,” urainya.

Kuliah dan main bola juga tidak menyurutkan sisi kreatif yang ada pada dirinya. Dia pun kerap menuang-kan apa yang ada dalam benaknya dalam lirik dan mencipta lagu.

“Kebanyakan curhatan teman-teman. Ya kalau bikin lagu ngalir saja,” kata kiper yang sejak akhir tahun lalu membentuk band bernama Beginer.

Jika di lapangan hijau dirinya sebagai kiper, namun di band dirinya menjadi front man alias vokalis. Main band jadi salah satu cara dirinya merefresh diri. Bukan cuma main di stu-dio, bebe-rapa kali Tito dan bandnya sudah menjadi pengisi di berbagai acara dan pentas seni.

“Ada rencana juga pengen bikin album, sekarang lagi ngumpulin beberapa lagu,” tandasnya. (dya/dem)