ARI KUSUMA FOR RADAR JOGJA

Wujud Keprihatinan, Kenalkan Ka Ga Nga ke Anak Muda

Aksara daerah merupakan jati diri dan kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Ini yang dilakukan oleh koreografer muda Ayu Permata Sari. Dia mengemas aksara tradisional Lampung Ka Ga Nga menjadi sebuah tarian apik dan bernilai. Seperti apa tariannya
DWI AGUS, Bantul
KEPEDULIAN terhadap tanah kelahiran diwujudkan c. Perempuan kelahiran Kotabumi, Lampung Utara, 18 Juni 1992 ini menciptakan tarian berjudul Ka Ga Nga. Inspirasi tarian ini berasal dari kepriha-tinannya terhadap aksara kuno khas Lampung.Ayu, sapaannya, mengungkapkan, saat ini tidak banyak yang mengetahui aksara ini. Bahkan rata-rata belum mengetahui bahwa Lampung memiliki aksara tradisional. Pa-dahal aksara ini merupakan salah satu jati diri yang dilestarikan oleh nenek moyangnya. “Kenyataannya memang seperti itu, tidak semua tahu tentang aksara ini. Untungnya masih ada ulasan-ulasan artikel yang bisa dibaca. Jadi menanamkan kepedulian dari diri sendiri dan mengenalkan ke lingkungan,” katanya ditemui di kampus ISI Jogjkarta, Se-won belum lama ini
Dijelaskan, tidak semua orang Lampung tahu aksara tradisi ini. Baginya, ini merupakan sebuah ironi, terlebih aksara tradisi merupakan jati diri yang seha-rusnya dijaga dan dilestarikan. Ayu menjelaskan, aksara Lam-pung ini memiliki 20 suku kata. Terdiri dari Ka Ga Nga Pa Ba Ma Ta Da Na Ca Ja Nya Ya A La Ra Sa Wa Ha Gha.

Sama halnya dengan aksara Jawa, aksara ini merupakan sarana komunikasi pada era terdahulu. Dari susunan aksara, Ayu melihat ada keinda-han terutama dalam penulisan-nya.Dalam karya tarinya, Ka Ga Nga ini ditarikan oleh Sembilan orang dengan gerakan yang ran-cak. Ayu menjabarkan konsep gerak tari yang terinspirasi dari garis aksara Lampung.

Untuk latar belakang gerak tari Ayu mengadaptasi Tari Sigeh Pungu-ten.Tari tradisional ini dipilih ka-rena adanya persamaan pola gerak lantai. Terutama antara pola antara aksara dan Tari Sigeh Punguten yaitu kuat lembut, lurus, dan melengkung.

“Saya memaknai garis aksara Lampung tersebut sebagai se-buah kehidupan, jalinan kelu-arga, dan jalinan pertemanan. Garis aksara Lampung yang lurus dan lengkung saya ibaratkan ada dua sisi kehidupan,” jelasnya.

Untuk menguatkan konsep tarian, Ayu juga menghadirkan busana adat perempuan Lam-pung. Ini dikenakan oleh satu penari sebagai sentral dari ce-rita. Sosok ini merupakan simbol sebagai leluhur yang datang ke tanah lampung. Selain adapula delapan penari yang memakai kostum berwarna putih. Ini me-nyimbolkan perbandingan aksara Ka Ga Nga dengan aks-ara dan bahasa lainnya.

Dia memiliki impian, tarian ini bisa dihadirkan di tanah ke-lahirannya, Lampung. Tujuannya untuk menyentil sekaligus menge-nalkan aksara Ka Ga Nga ke-pada generasi muda Lampung. Tak tertutup kemungkinan pula, konsep gerak tarian akan ber-kembang. (ila/ong)