JOGJA – Keberadaan petugas kebersihan sangat vital dalam menjaga Kota Jogja. Saat orang-orang berlibur, otomatis me-nambah sampah yang dibuang. Member-sihkan kota dari sampah, 460 petugas kebersihan dikerahkan. Mereka harus bekerja termasuk saat hari libur.

Bukan hanya masalah hari kerja. Pernahkah memikirkan uang yang mereka terima dari membersihkan sampah-sampah tersebut? Ternyata nilainya sangat-sangat kecil. Jatah lembur yang biasanya lebih besar dari gaji pokok harian saja hanya Rp 25 ribu.

“Nilai ini baru saja kami naikkan. Sebe-lumnya sehari mereka hanya mendapatkan uang lembur Rp 15 ribu,” ujar Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja Suyana, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, pasukan kuning meru-pakan garda terdepan pemkot untuk mem-bersihkan Kota Jogja. Setiap musim liburan datang, mereka siaga. Seperti lebaran ini ada 460 petugas yang terbagi tiga bidang urusan, yakni bidang kebersihan, taman, dan perindang yang tetap masuk.

“Kami akan dirikan posko sesuai arahan wali kota. Posko kami tempatkan di kan-tor BLH guna memudahkan koordinasi,” tandasnya.

Beratnya tugas tersebut, lanjut Suyana, tak bisa mereka imbangi dengan kesejahteraan. Tambahan uang lembur yang menjadi ha-rapan pasukan kuning selama lebaran ini, merupakan perjuangan selama 10 tahun.

“Mereka tidak pernah ada kenaikan se-lama 10 tahun terakhir. Meski, tiap tahun selalu inflasi,” ungkap mantan Kepala Dinas Pengelolaan Pasar ini.

Untuk pembayaran uang lembur ini akan dilakukan secara tunai tiap hari. Jadi, saat membayarkan uang lembur itu, tahu mana yang berangkat dan tidak.

“Langsung, siang harinya kami bayarkan,” jamin Suyana.Wali Kota Haryadi Suyuti mengaku, tak keberatan dengan usulan kenaikan honor lembur tersebut. Bahkan, tiap tiga tahun honor lembur akan dievaluasi apakah layak dinaikkan atau belum.

“Mereka ini yang menentukan Jogja nyaman atau ti-dak,” jelasnya.

Makanya, dia berharap masyarakat tur-ut peduli. Bukan malah menganggap me-reka orang rendahan.

“Jadikan mereka cermin dalam kehidupan. Bekerja bukan untuk mencari nama. Mereka ini orang-orang ikhlas,” kata HS, sapaan akrabnya.

Selain soal kesejahteraan, HS memas-tikan jaminan kesehatan juga harus di-penuhi. Ini sudah dilakukan dengan pemberian BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. “Kalau anggarannya memung kinkan, inginnya semuanya, baik kesejahteraan dan jaminan sosial dibe-rikan,” tandasnya. (eri/ila/dem)