JOGJA – Dua putri Raja Keraton Jogjakarta memimpin langsung upacara Tumplak Wajik di Ndalem Magangan, Senin sore kemarin (4/7). Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi dan GKR Bendara diikuti beberapa abdi dalem mengantar ubo rampe gunungan.

Dalam kesempatan ini terlihat pula Raden Ajeng Nisaka Irdina Yudhanegara, putri GKR Bendara Mangkubumi menjelaskan tumpak wajik merupakan prosesi adat dalam setiap garebeg Keraton Jogjakarta. Prosesi ini sebagai awalan untuk membuat tujuh gunungan. Nantinya gunungan akan dihantarkan ke Bangsal Ponconiti dan Siti Hinggil, Kamis (7/7). “Ini merupakan persiapaan un-tuk membuat gunungan Garebeg Syawal, 7 Juli mendatang. Semoga pembuatan gunungan lancar, nyuwun berkah dan restu kepada Gusti Allah,” jelas Mangkubumi.

Kedua putri raja ini mengan-tarkan ubo rampe dari Sri Sultan Hamangku Bawono ka 10. Selan-jutnya ubo rampe diterima dan didoakan oleh Ponco Kaji atau kaum. Selanjutnya wajik yang sudah didoakan ditumplak atau ditumpahkan ke rangka dasar gunungan wadon.Selama prosesi ini abdi dalem lainnya memainkan gejog lesung di halaman Magangan. Terlebih dahulu rangka gunungan diolesi Dlingo Bengle. Ini merupakan empon-empon yang dibuat dari rempah-rempah.

“Gunungan ini merupakan pem-berian Raja Keraton Jogjakarta kepada warganya. Nantinya ada tujuh gunungan, lima diserahkan ke Masjid Gede Kauman, satu ke Kepatihan dan satu gunungan ke Pakualaman,” kata putri Mah-kota Keraton Jogja ini.

Wakil Penghageng Kalih (dua) Widya Budaya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Rinto Isworo menambahkan, ketujuh gunungan dibuat dari kekayaan hasil bumi. Ketujuh gunungan terdiri atas tiga Gunungan Lanang, dan ma-sing-masing satu Gunungan Wa-don, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan.

Dipilihnya Gunungan Wadon sebagai prosesi awal memiliki makna tersendiri. Menurutnya, Gunungan Wadon merupakan perlambang generasi penerus, di mana mampu memberikan keturunan dan lambang kesu-buran di bumi. “Jadi untuk mengawali pem-buatan gunungan dari Gunung-an Wadon terlebih dahulu. Disaksikan utusan Sri Sultan Hamangku Bawono ka 10 dan para abdi dalem lainnya,” jelasnya.

Dalam acara ini warga juga terlihat memadati Magangan. Beberapa di antaranya datang karena penasaran, ada pula yang datang untuk berebut berkah dari Dlingo Bengle. Empon-em-pon berwarna kuning ini diper-caya memberi berkah dan dapat menolak bala. (dwi/laz/ong)