JOGJA – Beberapa aksi bom bunuh diri yang terjadi jelang perayaan Idul Fitri, mendapat kecaman dari berbagai pihak. Bom bunuh diri yang terjadi di Baghdad, Jeddah, Madinah termasuk di Solo, dinilai sebagai kegiatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

“Bom bunuh diri termasuk kelompok dzalimun linafsih, merugikan diri sendiri sekaligus mendzolimi orang lain,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir seusai menjadi imam dan khatib Salat Idul Fitri di Alun-alun Utara Jogja kemarin (6/7). Menurut Haedar, dilihat dari sisi manapun aksi bom bunuh diri tidak bisa dibenarkan. “Muhammadiyah mengecam keras bom bunuh diri termasuk yang di Timur Tengah,” lanjutnya.

Aksi bom bunuh diri itupun, lanjut dia, harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah jika terorisme masih harus diwaspadai. Menurut dosen UMY itu, terorisme terus menggalang kekuatan baik di permukaan maupun silent. Harus ada aksi nyata untuk penanggulangan terorisme. “Pencegahan dan penindakan harus ada keseimbangan,” tuturnya.

Muhamadiyah sendiri, tambahnya, sudah menawarkan beberapa strategi penanggulangan terorisme. Termasuk kerjasama pemerintah, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Polri, TNI dan organisasi masyarakat. “Ada sinergi bersama, termasuk dengan civil society,” ujarnya.

Kepada masyarakat Indonesia sendiri, Haedar mengaku yakin cukup kuat untuk menghadapinya. Terbukti beberapa aksi terorisme tidak membuat masyarakat takut. “Saya kira masyarakat cukup kebal menghadapi problem ini,” ujarnya.

Sementara itu Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengaku prihatin dengan masih terjadi aksi terorisme. Menurut dia, peristiwa tersebut harus membuat masyarakat waspada meski tidak boleh takut . HB X menyayangkan aksi teror terus terjadi, termasuk di Indonesia. “Kenapa hal seperti itu terus terjadi,” sesalnya.

HB X sendiri sebagai Gubernur DIJ mengikuti ketetapan Lebaran pemerintah, meski Keraton Jogja menetapkan Lebaran Kamis (7/7). Sebagai Raja Keraton Hamengku Bawono Ka 10 akan menggelar ngabekten hari ini, untuk abdi dalem putera. (pra/ong)