JOGJA – Selain takbiran, Masjid Gede Kauman Jogjakarta punya tradisi lain yang menandai 1 Syawal. Yaitu, para jamaah Salat Subuh pada 1 Syawal diajak menikmati oblok-oblok dan segelas teh hangat.

Seusai Salat Subuh, yang dilanjutkan dengan mengumandangkan takbir Rabu (6/7), para jamaah Salat Subuh masjid Gede Kauman diajak ke serambi masjid. Disana sudah menunggu sajian dua roti tawar diatas piring. Mereka pun antri untuk mendapatkan siraman kuah santan, yang rasanya manis. Itulah yang dinamakan oblok-oblok.

Menurut Ketua Takmir Masjid Gede Kauman Azwan Latif, untuk 1 Syawal 1437 Hijrah ini mempersiapkan 500 porsi oblok-oblok. Dan semuanya tandas. Bahkan beberapa jamaah tidak kebagian. “Padahal tiap tahun sudah kita tambah porsinya, Alhamdulillah habis semua,” ujarnya.

Azwan menjelaskan tradisi oblok-oblok di Masjid Gede Kauman dimulai sejak awal 1980-an. Pada awalnya tradisi, yang idenya berasal dari Ketua Takmir Masjid saat itu Basit Wahid itu, untuk menandakan sudah masuk 1 Syawal. Saat itu ada perbedaan penentuan jatuhnya 1 Syawal antara PP Muhammadiyah dan pemerintah. “Untuk menunjukkan sekarang sudah tidak puasa, selain itu disunnahkan sebelum Salat Idul Fitri sarapan pagi dulu,” jelasnya.

Dari kegiatan yang awalnya untuk menghindari kebingungan jamaah itu, oblok-oblok menjadi tradisi di Masjid Gede Kauman. Kampung tempat berdirinya pergerakan Muhammadiyah itu, selalu mengikuti penetapan 1Syawal dari PP Muhammadiyah.

Untuk menu oblok-oblok sendiri, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Gunungkidul itu mengatakan hanya untuk praktisnya saja. Untuk roti tawar mudah dibeli, Takmir tinggal menyiapkan kuah santan. “Tinggal membuat kuah, digrujuke kan rampung,” tuturnya.

Pria 56 tahun itu menambahkan, dulu sempat diubah menunya dengan bubur kacang ijo. Tapi karena untuk membuatnya yang lebih repot dan mayoritas jamaah yang justru lebih senang dengan oblok-oblok. “Untuk yang sepuh kan juga lebih mudah, tidak perlu dikunyah,” candanya.

Selain menikmati oblok-oblok, subuh pertama Syawal di masjid kagungan dalem Keraton Jogja itu, juga diisi dengan silaturahmi. Para jamaah saling bersalaman sambil mengucapkan selamat Idul Fitri. “Kalau selepas Salat Id biasanya sudah sibuk silaturahmi dengan keluarga,” ungkapnya.

Tradisi 1 Syawal di Masjid Gede Kauman Jogja itu ternyata juga menarik perhatian pemudik. Mahardika, pemudik asal Paser Kalimantan Timur mengaku sudah dua kali menikmati oblok-oblok tiap 1Syawal. “Suasana kebersamaannya asyik, oblok-oblok nya juga enak,” tuturnya. (pra/dem)