JOGJA – Jatuhnya salah satu Gunungan saat akan masuk ke pelataran masjid Gede Kauman Jogja, menjadi salah satu peristiwa menarik dalam gerebeg Syawal Tahun Jimawal 1949 . Sebuah gunungan wadon temumplak sebelum diperebutkan.

Jatuhnya salah satu Gunungan itu dikarenakan salah seorang abdi dalem yang membawa didepan tersandung. Kondisi itu membuat posisi gunungan tidak stabil dan akhirnya jatuh. Abdi dalem lainnya dan polisi yang berjaga langsung sigap memunguti hasil bumi yang jatuh, dikembalikan ke Gunungan. Meski sempat jatuh, Gunungan Wadon itu tetap diperebutkan oleh warga, disamping tiga Gunungan lainnya.

Selain Gunungan yang jatuh, grebeg 1Syawal Keraton Jogja pelaksanaannya baru digelar kemarin (7/7), waktunya tidak bersamaan dengan sholat Ied, yang sudah ditetapkan pemerintah pada rabu (6/7). Menurut penghulu Kraton Jogjakarta, KRT Kamaludiningrat, hal itukarena kalender yang dipakai di Keraton Jogja beda dengan pemerintah. “Di Kraton Jogja menggunakan kalender Sultan Agung yang perhitungannya menggunakan hisab urfi,” jelasnya.

Dalam Grebeg Syawal kali ini, Kraton Jogja mengeluarkan tujuh gunungan. Yaitu gunungan kakung, setri, gepak, pawon dan anakan. Dua diantaranya, yaitu gunungan kakung,dibawa ke kompleks Kepatihan dan Puro Pakualaman untuk diperebutkan disana. Dari lima gunungan yang dibawa ke halaman Masjid Gede, hanya empat gunungan yang diperebutkan masyarakat. Sedang satu gunungan lagi, yaitu gunungan gepak dibawa ke Pengulon Masjid Gede Kauman untuk dibagikan ke abdi dalem.

Menurut KRT Kamaludiningrat, sebenarnya dalam gunungan yang dikeluarkan Kraton tersebut,terdapat dua filosofis, yaitu sebagai sedekah Raja kepada masyarakat dan juga wujud tauhid, dengan bentuk gunungan yang mengerucut keatas. “Karena jumlahnya terbatas tapi yang datang banyak, maka diperebutkan,” tuturnya.

Gunungan tersebut berisi berbagai hasil bumi dan makanan. “Semuanya bisa dimakan,” tuturnya. Menurut dia, keberkahan dari Gunungan, karena berupa sedekah dari Raja yang menjalankan perintah agama, serta didoakan oleh penghulu. “Kalau tidak dimakan mubazir, manfaat kalau dimakan, itu namanya berkah,” lanjutnya.

Meskipun begitu ternyata masih ada sebagian masyarakat yang mempercayai mitos jika hasil Gunungan dari Keraton bisa membawa berkah jika ditanam atau diletakkan di lokasi tertentu. Mbah Suto dari Dlingo yang kemarin memperoleh bagian dari Gunungan Wadon, berupa rengginang yaitu sejenis kerupuk terbuat dari ketan dalam bentuk persegi kecil-kecil dengan berbagai warna. “Rengginannya akan disimpan di rumah, untuk tolak bala dan supaya tentrem,” ungkap pria 60 tahun itu.

Hal yang sama juga akan dilakukan oleh Afli, warga Klaten Jawa Tengah. Afli yang mendapat empat kacang pajang itu, akan digantung di depan pintu rumahnya. “Untuk tolak bala, menolak malapetaka,” ujarnya.(pra/dem)