SLEMAN – Sudah sejak lama Keca-matan Godean, Sleman cukup kondang sebagai pusat jajanan oleh-oleh ke-ripik belut.

Namun, sebagai produsen keripik belut, para penjaja produk khas Sleman itu ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku sendiri. Belut segar diimpor dari luar Sleman.

Sebagian besar didatangkan dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan Cilacap. Bahkan, tak se-dikit penjual belut yang menerima produk sudah dalam bentuk keripik. Pedagang hanya mengemas ulang dalam ukuran tertentu.

Kabid Perikanan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Supar-mono mengakui bahwa budidaya belut di areal persawahan di Sleman makin surut. Menurutnya, hilangnya populasi belut disebabkan rusaknya ekosistem persawahan yang selama ini menjadi habitat hewan konsum-si bertubuh licin itu.

Padahal, budi-daya belut muncul secara alami. Suparmono menengarai, rusaknya habitat belut akibat penggunaan pupuk kimia oleh petani. “Belut termasuk hewan yang sulit direkayasa teknologi budidaya. Belum ada teknologi pembiakannya,” jelasnya.

Sat ini, cara paling efektif untuk membiakkan belut sebatas dengan sistem minapadi organik. Namun, kondisi persawahan Sleman saat ini semakin terpapar bahan pupuk kimia dan pestisida. Luas lahan minapadi di Sleman sekitar 98 hektare.

Tahun ini, Ke-menterian Pertanian akan mem-beri bantuan pengadaan lahan mi-napadi seluas 65 hektare. Sekitar 40 hektare di antaranya berada di Seyegan dan sisanya ada di Moyudan dan Minggir.

“Pengembangan untuk menjadi produsen belut ini baru bisa di-kembangkan 2-3 tahun mendatang,” ucap Suparmono memprediksi.

Wasty, salah seorang pengusaha keripik belut asal Margoluwih, Seye-gan mengakui bahwa ketersediaan bahan baku belut sangat terbatas. Karena itu, dia harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendatangkan bahan baku. (bhn/yog/ong)